Belajar toleransi dari kota amoy


Pontianak (ANTARA) – Toleransi tidak muncul begitu saja. Ia harus dipupuk sehingga dapat tumbuh dengan baik. Sekolah merupakan tempat ideal nilai toleransi ditanamkan kepada setiap anak didik.

Contoh baik itu, setidaknya bisa kita lihat di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 19 di Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

SMPN 19 Singkawang menerapkan nilai-nilai toleransi dalam kegiatan belajar dan mengajar. Sekolah itu berdiri tahun 2015. Meski baru tujuh tahun berdiri, sekolah itu dapat menjadi model pendidikan toleransi. Terutama bagi generasi muda saat ini.

Program itu bertujuan menanamkan nilai toleransi kepada anak didik. Apalagi siswa di SMPN 19 cukup majemuk. Ada Tionghoa, Dayak, Melayu, Batak, Madura, Jawa, Bugis, dan Sunda.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang mengimbau tiap sekolah agar memiliki program kearifan lokal untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar. Karena itu, Kepala sekolah SMPN 19 dibantu para guru, segera menyiapkan tiga program kearifan lokal.

Program itu meliputi permainan barongsai, tari kipas, dan kesenian tundang (pantun dan gendang). Agar berjalan optimal, program itu jadi kegiatan ekstrakurikuler. Siswa kelas 7, 8, dan 9 diberi ruang, ikut kegiatan tersebut. Sekolah menyiapkan guru terlatih.

Siswa mengikuti kegiatan dengan antusias. Bila barongsai biasanya dimainkan anak Tionghoa, dalam kegiatan itu, siswa dari etnis lain turut memainkan. Bahkan, mereka terampil sekali memainkan atraksi kesenian khas Tionghoa itu. Begitu pun bertundang. Siswa Tionghoa memainkan kesenian khas Melayu tersebut.

“Nah, itu uniknya,” kata Kepala Sekolah SMPN 19, Eva Purwanti, saat ditemui di sekolah Gang Bunga, Jalan Yohana Godang, Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, beberapa waktu lalu.

Sekolah memiliki 440 siswa dan 32 guru. Sebanyak 370 lebih murid dari etnis Tionghoa. Sekitar 50 dari etnis Melayu. Selebihnya, Dayak, Madura, Batak, Sunda, Jawa, dan Bugis. Guru terbanyak dari Melayu dan Jawa. Disusul Dayak, Batak, Padang, dan Manado. Serta, satu dari etnis Tionghoa.

“Selalu ada kebersamaan di antara kami,” katanya lagi.

Penting mengasah kemampuan berkesenian siswa, karena dapat menghaluskan budi pekerti dan sopan santun. Ia mencontohkan, ketika pertama kali masuk sekolah, siswa banyak yang kurang sopan. Saat bicara dengan kawan, tak jarang siswa bersuara nyaring. Sejak ikut kegiatan seni, siswa lebih sopan.

“Guru tak hanya ajarkan kesenian, tapi juga mendidik etika dan sopan santun,” kata Eva.

Selain program kearifan lokal, sekolah juga mengadakan perayaan hari besar adat dan keagamaan. Misalnya, perayaan Imlek. Guru dan murid mengenakan pakaian khas Imlek, berwarna merah. Perayaan diisi permainan barongsai dan makan bersama. Ketika Ramadhan dan Idul Fitri, ada acara buka puasa bersama dan halal bihalal Idul Fitri. Murid non-muslim ikut acara tersebut.

“Saat ada perayaan Natal bersama, murid agama lain ikut memeriahkannya. Bahkan, tahun ini kami juga menyiapkan perayaan Paskah bersama,” kata Eva.

Kebhinnekaan di sekolah itu terasa setiap perayaan hari besar. Sangat indah. Bahkan, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie pernah mengikuti Imlek bersama siswa.

Akhirnya, siswa tahu setiap tradisi keagamaan yang ada.

Giliran pimpin doa

Program kearifan lokal semakin kuat, melalui berbagai contoh dan laku baik, dalam pelaksanaan upacara dan doa bersama, sebelum memulai pelajaran. Kegiatan baca doa dilakukan saat mulai pelajaran dan akhir pelajaran.

Siswa memimpin doa dengan suara nyaring. Jika yang dapat giliran murid agama Buddha, dia akan membaca Paritta. Jika murid Islam yang kena giliran, baca doa secara Islam. Begitu pula murid Katolik atau Kristen Protestan, baca doa sesuai agamanya.

“Setiap upacara bendera Senin pagi, petugas upacara bergiliran membaca doa, sesuai agama yang dianutnya, ” kata Guru Bimbingan Konseling SMPN 19, Bong Adi Effendi.

Bong Adi Effendi mengatakan jika petugas beragama Islam, maka berdoa secara Islam. Jika petugas beragama Buddha, maka doa yang dibacakan secara Buddha. Begitu pula untuk siswa beragama Kristiani, membaca doa sesuai keyakinannya.

Kegiatan baca doa bergiliran, dilakukan sejak 2018. Saat pandemi COVID-19, tak ada upacara. Sekolah mengadakan pembelajaran secara daring, sesuai kebijakan pemerintah.

Ketika pandemi mulai melandai, kegiatan belajar tatap muka terbatas dimulai. Senin (10/1), hari pertama masuk sekolah secara tatap muka terbatas. Tak ada upacara bendera. Cuaca juga tak mendukung karena mendung.

 

Kepala SMPN 19 Singkawang, Eva Purwanti menyatakan Kebhinnekaan di sekolah itu terasa setiap perayaan hari besar. ANTARA/Nurul Hayat/am.

Izin Saat Imlek

Keunikan lain di sekolah negeri itu, ketika perayaan Imlek. Banyak murid mengajukan izin tidak masuk sekolah. Izin dimulai satu hari menjelang tanggal 1 Imlek, karena ada makan bersama keluarga.

Izin berlanjut sepekan ke depan. Tapi, ada siswa sudah masuk pada hari ketiga, walau tak banyak. Jadi, saat Imlek, suasana sekolah sepi.

“Yang saya rasakan, perbedaan bukan jadi masalah. Keberagaman bukan untuk cari perbedaan, tetapi saling memahami. Guru dan muridnya luar biasa,” kata Eva.

Eva pernah menjadi kepala SMPN 1 Kota Singkawang. Namun, murid Tionghoa tak sebanyak di SMPN 19.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang, ada 20 SMP negeri dan 15 SMP swasta di kota yang berjuluk “Kota Amoy” itu. Sekolah negeri terbanyak di Kecamatan Singkawang Barat, sekitar 40 persen. Di kecamatan lain, sekitar 7-8 persen.

Selain SMPN 19, di Singkawang Barat juga ada SMPN 1 dan SMPN 5. Ada beberapa SMP swasta. Singkawang Tengah ada SMPN 2, SMPN 3, SMPN 4 dan SMPN 13. Singkawang Selatan ada SMPN 6, SMPN 10, SMPN 7, dan SMPN 18 serta sejumlah SMP swasta. SMP swasta terbanyak di Singkawang Barat dan Singkawang Tengah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang, Asmadi mengatur pemerataan kualitas pendidikan. Dimana siswa di lingkungan sekolah, wajib masuk di sekolah tersebut.

Selain itu, sejak 2021, tidak ada penerimaan melalui jalur prestasi. Pendaftaran peserta didik baru (PPDB) Kota Singkawang tahun 2021 hanya menerima jalur zonasi (50 persen), afirmasi (30 persen), dan kepindahan orang tua (20 persen).

Khusus SMPN 19, siswa terbanyak bermukim di Jalan Pulau Natuna dan Jalan Kalimantan, Kecamatan Singkawang Barat. Dalam dua tahun terakhir, sekolah itu menolak puluhan pendaftar, karena daya tampung ruang kelas tak memadai.

“Tiap kelas terdiri dari lima rombongan belajar, dan kelebihan pendaftar sebanyak 1 kelas atau sekitar 32 murid, tidak dapat masuk ke sekolah,” kata Eva, perempuan dari Kota Padang, Sumatera Barat tersebut.

Motivasi dan toleransi

SMPN 19 menempati bangunan bekas sekolah dasar (SD). Sekolah ini berada di Gang Bunga, Pasiran, bertanah merah jenis podsolik merah kuning (PMK). Halaman sekolah becek dan berlumpur jika hujan turun. Akibatnya, lantai sekolah kotor. Jejak sepatu sehabis menginjak tanah becek, menanda dengan jelas di lantai.

Pada 2019, sekolah dapat bantuan pembangunan dua lantai dari Pemerintah Kota Singkawang. Ada ruang kelas baru di bagian belakang bangunan lama. Ada delapan ruang kelas.

Empat di lantai dasar dan empat di lantai atas. Ruang kelas itu ditempati murid kelas 8 dan 9. Setiap masuk kelas, murid melepas alas kaki, sehingga kelas bersih tak ada jejak sepatu kotor.

Setiap dinding warna kuning gading mulai dari tangga naik ke lantai dua, pintu masuk hingga dinding kelas, terpajang hasil karya siswa.

Ada kalimat berisi anjuran untuk sopan santun menggunakan Bahasa Inggris. Ada kalimat peringatan bahaya merokok menggunakan tiga bahasa; Indonesia, Mandarin dan Inggris. Di dalam kelas terdapat Profil Pelajar Pancasila meliputi; bernalar kritis, gotong royong, kebhinnekaan global, mandiri, kreatif, beriman bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia.

Juga ada pohon pengharapan yang berisi kata-kata motivasi. Serta pojok baca yang memajang piala prestasi, setiap kelas dan buku bacaan.

“Semua yang membuat prakarya dan menghias kelas adalah siswa sendiri,” kata guru BK, Bong Adi Effendi.

Kalimat motivasi juga dipajang pada bangunan kelas lama. Kata bijak dari tokoh dunia, seperti Bunda Teresa dan Jack Ma, dipajang pada dinding teras ruang kelas. Semua itu untuk memotivasi siswa, agar dapat meniru jejak para tokoh sesuai visi sekolah. Yaitu, mewujudkan sekolah unggul berwawasan lingkungan, berdasarkan kebhinnekaan dan Pancasila.

Pendidikan keberagaman di sekolah, turut membuat Kota Singkawang mendapat predikat sebagai kota paling toleran di Indonesia. Setara Institute dalam studi indeks kota toleran (IKT) tahun 2018 dan 2020, melaporkan Singkawang menjadi salah satu dari 10 kota paling toleran di Indonesia.

Berdasarkan IKT tahun 2018, Singkawang menempati urutan pertama, disusul Kota Salatiga, dan Kota Pematang Siantar. Selanjutnya, Manado, Ambon, Bekasi, Kupang, Tomohon, Binjai, dan Surabaya. IKT tahun 2020, Singkawang urutan kedua, setelah Salatiga. Urutan ketiga, Manado disusul Tomohon, Kupang, Surabaya, Ambon, Kediri, Sukabumi, dan Bekasi.

Terkait itu, Bong Adi menyatakan, pihaknya ingin menjadikan SMPN 19 sebagai etalase atau cermin yang bisa dilihat. Bahwa, pendidikan toleransi bisa diterapkan dan dirasakan di SMPN 19.

“Apa yang ada di SMPN 19, kita harapkan bisa membias ke sekolah-sekolah lain,” kata guru satu-satunya dari etnis Tionghoa di SMP negeri itu.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie dalam kesempatan terpisah menyatakan, tidak mengetahui secara pasti, ukuran penetapan Singkawang sebagai kota paling toleran di Indonesia. Tetapi ia berjanji akan mempertahankan prestasi, dan meningkatkan lagi dari hal-hal yang kecil.

“Kita tidak tahu saat mereka turun meninjau. Tetapi saya disampaikan, hasilnya seperti itu, dan minta lebih ditingkatkan lagi kepada hal-hal yang diperlukan,” katanya menjelaskan.

Baginya, peringkat satu atau dua, tak begitu masalah. Yang terpenting adalah, harus tetap menjaga keharmonisan masyarakat Kota Singkawang, sehingga tetap aman, nyaman dan damai.

Dia berharap, warga Singkawang dapat hidup berdampingan dengan baik. Selalu bekerja sama, tanpa masalah atau gesekan, terkait isu etnis, agama dan golongan.

Melihat keberagaman di Kota Singkawang, kita bisa melihat dan mendapatkan contoh baik. Bahwa perbedaan bukan untuk perpecahan. Tetapi menjadi sikap toleran dan harmoni.