UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN TEKNIK THINK-PAIR-SHARE ( TPS ) DI KELAS VIII A PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 JANGKANG


  • Sabtu, 4 April 2020
  • 16:35 WIB
  • data:post.title

    Foto : Dede Jalaludin

    SMP Negeri 2 Jangkang, Kabupaten
    Sanggau

    Penelitian ini
    dilatarbelakangi oleh
    perolehan
    nilai siswa pada semester ganjil
    tahun pelajaran 2016/2017, belum memuaskan karena rata-rata nilai siswa di
    bawah KKM, yakni 70, siswa yang belum mencapai KKM ada
    25 siswa sedangkan yang sudah
    mencapai KKM
    8
    siswa. Siswa dianggap berhasil dalam belajar secara klasikal jika telah
    mencapai
    75%,
    dan mendapatkan nilai di atas KKM
    atau sama dengan KKM. Masalah utama
    dalam penelitian ini yaitu, “ Bagaimanakah
    Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Teknik TPS di Kelas VIII A Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia  SMP Negeri 2 Jangkang. Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa kelas
    VIII A
      dengan menggunakan Teknik TPS pada
    mata pelajaran Bahasa Indonesia di

    SMP Negeri
    2
    Jangkang.
                Metode
    yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan .
    Sedangkan bentuk
    penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas.
    Penelitian ini dilakukan di SMP
    Negeri
    2
    Jangkang, penelitian semester
    ganjil
    bulan 
    November 
    tahun  201
    7. Sedangkan Subjek
    penelitian ini adalah siswa kelas VII
    I A dengan jumlah 33 siswa yang terdiri dari :
    laki-laki 1
    8
    siswa  dan perempuan 1
    5 siswa. Peningkatan
    hasil belajar siswa dapat dilihat dari naiknya rata-rata kelas dari pra siklus
    sebesar
    53,6%
    kemudian siklus I sebesar
    65,2%
    dan pada siklus II terdapat peningkatan sebesar
    77,4% dengan jumlah siswa mencapai KKM ?
    70 , pada pra siklus sebanyak
    8
    orang siswa, siklus I sebanyak 1
    8
    orang siswa dan siklus II sebanyak 2
    7 orang siswa . Persentase ketuntasan pada pra siklus 24%, siklus I 54% dan sikus II 81%, terjadi peningkatan persentase
    ketuntasan siswa dari pra tindakan ke siklus I yakni 3
    0 % dan terjadi peningkatan
    persentase ketuntasan dari siklus I ke siklus II yakni 2
    7%.
    Kata Kunci: peningkatan hasil belajar, teknik TPS
    Sebagai makhluk sosial manusia
    tidak akan terlepas dari berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan manusia
    adalah pendidikan.
    Pendidikan
    adalah usaha sadar dalam rangka menyiapkan siswa melalui bimbingan pengajaran,
    dan latihan agar siswa dapat memainkan peranannya dimasa yang akan datang.
    Pendidikan adalah kebutuhan batiniah yang memegang peranan penting dalam usaha
    mengembangkan kualitas manusia. Pada saat ini pendidikan menjadi salah satu
    kebutuhan bahkan suatu keharusan dalam kehidupannya. Peningkatan kualitas
    pembelajaran merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam
    suatu proses belajar mengajar untuk meningkatkan mutu pendidikan.
    Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003, Pendidikan
    adalah usaha sadar dan terencana dan proses pembelajaran agar siswa secara
    aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
    keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
    keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
                Salah satu komponen sumber daya
    manusia dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam pembentukan
    sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan
    adalah guru. Keberhasilan program pendidikan
    tidak hanya tergantung pada konsep-konsep program yang disusun secara cermat
    dan teliti, tetapi juga pada personil yang mempunyai kesanggupan dan keinginan
    untuk berprestasi. Guru merupakan sumber daya manusia yang diharapkan mampu
    mengerahkan dan mendayagunakan faktor-faktor lainnya sehingga tercipta proses
    belajar mengajar yang bermutu, guru dianggap sebagai faktor utama yang
    menentukan terhadap meningkatnya mutu pendidikan. Oleh karena itu guru harus
    berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional,
    sesuai dengan tuntutan masyarakat, khususnya bertangggungjawab untuk membawa
    siswanya pada suatu kedewasaan.
                Suasana belajar yang menyenangkan,
    kreatif dan inovatif dalam melakukan pembelajaran agar siswa lebih mudah
    memahami materi yang disampaikan,
    merupakan salah satu tugas guru, sehingga siswa menjadi antusias dalam mengikuti proses
    belajar mengajar
    .
    Pembelajaran yang
    dilaksanakan berkualitas dan berprestasi yang dicapai siswa memuaskan

    merupakan keharusan dari proses pembelajaran
    . Salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan
    belajar siswa, yaitu dengan menggunakan pembelajaran aktif, siswa dapat
    mengeluarkan gagasannya, memecahkan masalah dan dapat
    diterapkan
    dalam kehidupan sehari-hari
    .
                Hasil perolehan nilai siswa di kelas VII semester genap tahun
    pelajaran 2016/2017
    ,
    belum memuaskan
    ,
    karena rata-rata nilai siswa masih di bawah KKM, yakni 70, siswa yang belum
    mencapai KKM ada
    24
    siswa sedangkan yang sudah mencapai KKM
    9 siswa, siswa dianggap berhasil dalam belajar secara
    klasikal apabila telah mencapai
    75%,
    dan telah mendapatkan nilai di atas KKM, hal ini di sebabkan pada semester
    sebelumnya guru masih menggunakan metode pembelajaran yang masih bersifat
    konvensional yaitu metode bercerita atau ceramah, yang mengharapkan siswa
    duduk,diam, dengar, catat dan hafal, metode ini selalu digunakan dan menjadi
    pilihan dalam penyampaian materi, dengan metode ini mengakibatkan menurunnya
    motivasi siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik dan berdampak pada hasil
    belajar siswa yang kurang memuaskan.
    Motivasi
    sangat penting dalam pembelajaran
    Bahasa Indonesia,
    sehingga pada saat pembelajaran berlangsung siswa
    menjadi
    kreatif
    .
                Pembelajaran menggunakan metode
    bercerita atau ceramah yang biasa diterapkan dalam pembelajaran
    Bahasa
    Indonesia
    , siswa
    cenderung bosan, kurang aktif dalam bertanya
    . Menjawab pertanyaan yang ditanyakan
    oleh guru secara lisan, kebanyakan siswa berpendapat bahwa pelajaran
    Bahasa
    Indonesia
    sangat
    membosankan, monoton, hal ini dapat dilihat masih kurangnya penguasaan materi
    pelajaran oleh siswa. Guru kadang merasa kebingungan apakah siswa mengerti dan
    menerima materi pelajaran yang di sampaikan guru atau tidak mengerti tentang
    materi yang di sampaikan
    .  Pada
    saat guru mengulang materi dan menanyakan tentang materi yang sudah di
    sampaikan
    ,
    siswa hanya duduk terdiam dan pura-pura berpikir padahal tidak tahu apa yang
    dipikirkan
    . Siswa
    bersikap acuh tak acuh dan kurang antusias untuk mengikuti proses belajar
    mengajar, terkadang mereka malah berbicara dengan temannya yang lain ketika
    guru sedang menjelaskan, sehingga
    pembelajaran di kelas tidak efektif..
                Hasil diskusi dengan rekan guru Bahasa
    Indonesia
    di SMP
    Negeri
    2
    Jangkang, maka rendahnya hasil belajar siswa kelas VII
    I A disebabkan oleh dua faktor yakni : dari guru yaitu, masih berperan dominan dalam PBM
    karena masih menggunakan metode ceramah, guru belum melibatkan siswa dalam
    pembelajaran, guru tidak menggunakan teknik lain yang digunakan dalam PBM,
    siswa tidak pernah diberi tugas, dari pihak siswa disebabkan oleh : minat
    belajar siswa masih rendah, kurangnya perhatian siswa terhadap materi
    pelajaran, malas mengerjakan tugas.
     Berdasarkan fakta tersebut, maka perlu solusi
    untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu cara untuk meningkatkan
    hasil belajar siswa adalah melalui penerapan/ menggunakan strategi dalam pembelajaran.
    Secara umum strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu upaya yang
    dilakukan oleh seseorang atau organisasi unyuk sampai pada tujuan. Dalam Kamus
    Besar Bahasa Indonesia, strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan
    untuk mencapai sasaran khusus ( yang diinginkan ). Menurut Joni,( Kodir, 2010 :
    18) berpendapat bahwa yang dimaksud strategi adalah suatu prosedur yang
    digunakan untuk memberikan suasana yang konduktif kepada siswa dalam rangka
    mencapai tujuan pembelajaran.
    Untuk
    meningkatkan hasil belajar,
    penulis
    sekaligus guru mata pelajaran
    Bahasa Indonesia menganggap
    perlu perubahan dalam teknik pembelajaran
    Bahasa
    Indonesia
    , yakni
    penggunaan teknik TPS, diharapkan dengan penggunaan teknik TPS ini bisa membuat
    siswa lebih tertarik dan tidak jenuh karena dalam proses pembelajaran ini yang
    sangat menarik
    .
    Diharapkan dengan
    menggunakan teknik ini proses belajar mengajar akan lebih hidup
    dan mengasyikkan. Siswa lebih aktif baik bertanya
    ataupun dalam menjawab pertanyaan
    .
    Dengan demikian,  diharapkan meningkatnya hasil belajar siswa
    menjadi lebih baik
    dan lebih efektif  jika dibandingkan dengan semester sebelumnya.
                Berdasarkan latarbelakang tersebut, penulis merumuskan masalah umum dalam penelitian ini yaitu, “
    Bagaimanakah Upaya
    Peningkatan
    Hasil Belajar Siswa kelas VII
    I
    A Pada Mata Pelajaran
    Bahasa Indonesia
    Dengan Menggunakan Teknik TPS ( Think-Pair-Share
    )
    di SMP Negeri 2 Jangkang ? Untuk mempermudah dalam penelitian ini, maka masalah umum tersebut dibahas secara khusus sebagai berikut: 1) Bagaimanakah penggunaan Teknik TPS
    dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII
    I A pada mata pelajaran Bahasa
    Indonesia
    di SMP Negeri 2 Jangkang? 2) Bagaimanakah peningkatan  hasil belajar siswa kelas VIII A melalui penggunaan Teknik TPS  pada
    mata pelajaran
    Bahasa Indonesia
    di SMP Negeri
    2
    Jangkang?
    Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa kelas
    VIII A
    dengan
    menggunakan Teknik TPS
    pada mata pelajaran  Bahasa Indonesia
    di SMP Negeri
    2
    Jangkang
    .
    Secara khusus
    penelitian bertujuan:
    1) Untuk mengetahui penggunaan Teknik
    TPS dalam
    peningkatan
    hasil belajar siswa kelas VII
    I A
    pada mata pelajaran
    Bahasa Indonesia di SMP
    Negeri
    2
    Jangkang
    . 2) Untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa kelas VIII A melalui penggunaan Teknik TPS  pada
    mata pelajaran
    Bahasa Indonesia
    di SMP Negeri
    2
    Jangkang.
                Manfaat dari penelitian tindakan
    kelas melalui penggunaan Teknik TPS untuk meningkatkan hasil belajar
    siswa
    kelas VIII A
    pada mata
    pelajaran
    Bahasa Indonesia
    di SMP Negeri
    2
    Jangkang, adalah :
    1) Manfaat Teoritis,
    yaitu
    hasil penelitian
    ini diharapkan
    agar
    bermanfaat
    dan
    menambah ilmu pengetahuan,
    serta
    dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran
    pada pelajaran Bahasa
    Indonesia.
    2) Manfaat Praktis yaitu
     a) Bagi Siswa, diharapkan siswa dapat menambah
    wawasan dan menambah ilmu pengetahuan yang luas khususnya
    pada mata pelajaran Bahasa
    Indonesia
    . b) Bagi Guru diharapkan penelitian ini dapat
    menjadi motivasi bagi guru mata pelajaran
    Bahasa
    Indonesia
    sebagai
     alternatif dalam pembelajaran untuk
    meningkatkan hasil belajar siswa.
    c)  Bagi
    Sekolah
    , penelitian
    ini
    agar menjadi
    pertimbangan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan dapat
    memotivasi guru bidang studi yang lain untuk mempergnakan teknik TPS (Think-Pair-Share).
              Belajar pada dasarnya suatu proses yang dilakukan
    seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
    sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interksi dengan lingkungannya
    . Prayitno (2009 : 203) menyatakan
    bahwa  belajar merupaka proses perubahan
    tingkah laku individu yang diperoleh melalui pengalaman, melalui proses
    stimulus respon, melalui pembiasaan,melalui peniruan, melalui pemahaman dan
    penghayatan, melalui aktivitas individu untuk meraih sesuatu yang
    dikehendakinya.
                Wardhana, Y (2010 : 3), belajar di
    anggap sebagai perubahan perilaku yang merupakan akibat dari pengalaman dan
    latihan. Belajar merupakan proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur
    latihan, belajar bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan, tetapi merupakan
    proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan perubahan
    perilaku.
    Usman dan
    Setiawati (2001 : 5) menyatakan belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri
    individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya,
    seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah
    laku, baik aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap, misalnya dari
    yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang ragu menjadi yakin. Kriteria
    keberhasilan dalam belajar diantaranya ditandai dengan terjadinya perubahan
    tingkah laku pada diri individu yang belajar.
                Penjelasan
    hasil belajar dapat dipahami dengan

    dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil
    menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses
    yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan belajar
    dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang
    belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar.
    Hasil belajar sering kali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa
    jauh seseorang menguasai suatu bahan yang sudah diajarkan. Purwanto (Erthy,
    2014 : 26) mengatakan, untuk mengaktualisasikan hasil belajar tersebut
    diperlukan sebagai serangkaian pengukuran menggunakan alat evaluasi yang baik
    dan memenuhi syarat.
                Winarno Surakhmad (1980 : 25) hasil
    belajar diartikan sebagi ulangan, ujian atau tes, maksud ulangan tersebut ialah
    untuk memperoleh suatu indek dalam menentukan keberhasilan siswa, atau suatu
    prestasi belajar siswa yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar
    mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang.

    Selanjutnya
    Udin
    Syaefudin Saud, M.Ed. (2009 : 118) bahwa hasil suatu pembelajaran di samakan
    dengan tujuan yang ingin dicapai dari suatu perbuatan. Keberhasilan suatu
    proses pengajaran biasanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi
    pelajaran yang disampaikan guru.
                Suprijono (2009 : 5) hasil belajar
    adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap,
    apresiasi dan keterampilan. Merujuk Gagne (Suprijono, 2009 : 5) hasil belajar
    berupa : 1)
    Informasi verbal
    yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk
        bahasa,
    baik lisan rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan  manipulasi symbol, pemecahan masalah maupun
    penerapan atura,
    2)
    Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
    Kemampuan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat
    khas, 3)
    Strategi kognitif
    yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.
    Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah,
    4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan
    melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud
    otomatisme gerak jasmani,
    5)
    Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian objek
    tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi
    nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar
    perilaku.
                Hasil belajar merupakan salah satu
    bentuk penilaian dalam pelaksanaan kurikulum ada dua hal yang sangat penting
    untuk dijadikan sasaran evaluasi dalam pelaksanaan kurikulum, yaitu hasil
    belajar siswa tiap semester dan daya capai kurikulum pada tiap sekolah. Hasil
    belajar adalah kemampuan yang dimiliki sisa setelah menerima pengalaman belajar
    (Sudjana, 2010 : 22).
    Dimyati
    dan Mudjiono (2009 : 3) hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya
    kegatan pembelajaran di sekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha
    sadar yang dilakukan secara sistematis mengarah kepada perubahan yang positif
    yang kemudian disebut proses belajar. Akhir dari proses belajar adalah
    perolehan suatu hasil belajar kelas. Semua hasil belajar tersebut
    merupakan  hasil dari suatu interaksi
    tindk belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri
    dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar
    merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
                Gagne dalam Sudjana (2010 : 22)
    mengembangkan hasil belajar  menjadi lima
    macam antara lain : 1) hasil belajar intelektual merupakan hasil belajar
    terpenting dari sitem lingsikolastik, 2) strategi kognitif yaitu cara mengatur
    belajar dan berfikir seseorang dalam arti seluas-luasnya termasuk kemampuan
    memecahkan masalah, 3) sikap dan nilai, berhubungan dengan arah intensitas
    emosional yang dimiliki seseorang sebagaimana disimpulkan dari kecenderungan
    bertingkah laku terhadap orang dan kejadian, 4) informasi verbal, pengertian
    dalam arti informasi dan fakta, dan 5) keterampilan motorik yaitu kecakapan
    yang berfungsi untuk lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan
    lambang.
                Faktor-faktor yang mempengaruhi
    hasil belajar adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan dalam jangka waktu
    tertentu hasilnya dilihat dari prestasi atau perubahan tingkah laku yang
    terjadi pada diri siswa. Menurut Purwanto 
    (1990 : 103 ) dalam bukunya psikologi pendidikan hasil belajar akan
    dipengaruhi oleh beberapa fa
    ktor
    , yaitu  (a) factor intern meliputi : (1)
    kematangan, (2) kecerdasan dan intelegensi, (3) lstihsn atau ulangan, (4)
    motivasi, (5) sifat pribadi, (b) factor ekteren meliputi : (1) tingkat social
    ekonomi orang tua, (2) lingkungan, (3) fasilitas belajar, (4) fa
    ktor guru dan cara mengajar.        
    Dari pendapat beberapa ahli yang telah
    mengemukakan pendapatnya tentang hasil belajar, dapat disimpulkan bahwa hasil
    belajar merupakan suatu hasil yang didapat siswa dalam periode tertentu melalui
    suatu proses belajar mengajar dengan adanya suatu perubahan tingkah laku yang
    lebih baik, dan dinyatakan dengan suatu angka-angka.
    2.  Teknik
    Think-Pare-Share
    (TPS)
    Pembelajaran Teknik TPS adalah strategi pembelajaran untuk
    mempersiapkan siswa dengan berbagai bahan pemikiran pada topik yang diberikan
    sehingga memungkinkan siswa menyatakan ide secara individu dan berbagai ide
    dengan siswa lainnya. Menutur Muslimin Ibrahim, dkk (2000: 26) menyatakan
    pembelajaran model Think-Pair-Share (TPS)
    adalah “Pembelajaran yang memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit
    untuk memberi siswa  waktu lebih  banyak untuk berpikir, menjawab dan saling
    membantu satu sama lain”.
    Pembelajaran dengan
    teknik
     TPS merupakan model pembelajaran
    kooperatif dimana siswa belajar dalam diskusi kelompok yang terdiri dari 4
    orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan positif dengan
    menulis ide-ide dari pemikiran setiap individu kemudian berbagi bersama untuk
    meningkatkan respon siswa pada pertanyaan/masalah.
    Pembelajaran Teknik TPS adalah
    strategi pembelajaran untuk mempersiapkan siswa dengan berbagai bahan pemikiran
    pada topi
    k
    yang diberikan sehingga memungkinkan siswa untuk menyatakan ide secara individu
    dan berbagai ide dengan siswa lainnya.
                Pembelajaran teknik TPS merupakan model pembelajaran
    kooperatif dimana siswa belajardalam diskusi kelompok yang terdiri dari 4 orang
    siswa secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan positif dengan
    menulis ide-ide dari pemikiran setiap individu kemudian berbagi bersama untuk
    meningkatkan respon siswa pada pertanyaan/ masalah.
      Pembelajaran
    teknik TPS untuk
    meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran orang lain. Siswa
    tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi harus mengembangkan pola
    pikir dengan ide-ide baru dalam memahami meteri yang diberikan sehingga dapat
    memotivasi siswa yang lainnya agar memiliki pola pikir yang baik.
                Pembelajaran
     teknik Think-Pair-Share (TPS) memiliki tahap-tahap sebagai
    berikut (Muslimin Ibrahim, dkk : 2000:26)
    1) Thinking (Berpikir) Guru mengajukan pertanyaan atau isu
    yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diminta memikirkan pertanyaan
    atau  isu tersebut secara mandiri untuk
    beberapa saat
    , 2) Pairing (Berpasangan) Guru meminta siswa berpasangan
    dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap
    pertama, interaksi pada tahap ini 
    diharapkan  dapat berbagi jawaban
    jika telah diajukan suatu pertanyaan atau berbagai ide jika persoalan khusus
    telah diidentifikasikan. Biasanya guru memberi waktu 5-10 menit untuk
    berpasangan
    , 3) Sharing (Berbagi) Pada tahap akhir guru meminta
    kepada pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas tentang apa yang telah
    mereka bicarakan. Ini dilakukan dengan cara bergiliran berpasang-pasang dan
    dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasang telah mendapat kesempatan untuk
    melaporkan.
                Berdasarkan tahap-tahap pembelajaran
     teknik TPS di atas langkah-langkah pembelajaran  teknik TPS
    dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) guru menyampaikan tujuan dan
    memotivasi siswa, (2) guru menyampaikan materi pelajaran dengan singkat, (3)
    guru memberikan masalah atau pertanyaan yang berhubungan dengan materi, (4)
    siswa diberi waktu berpikir dan bekerja secara mandiri atas masalah atau
    pertanyaan yang diberikan untuk beberapa saat, (5) guru meminta kepada siswa
    untuk berpasangan dengan siswa lainnya dalam kelompok yang terdiri dari 4 orang
    siswa, jadi terdiri dari 2 pasang, (6)
     setiap siswa memberi pendapat dalam
    kelompok, (7) guru memantau kegiatan siswa yaitu dengan berkeliling dan mampir
    di setiap kelompok, (8)
      guru menentukan jawaban dari hasil
    diskusi, (9) guru menunjuk setiap pasangan untuk mempresentasikan jawaban dari
    pertanyaan atau masalah yang diberikan. Ini dilakukan secara bergiliran
    pasangan demi pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkannya,
    (10) guru mengevaluasi diskusi
    kelompok, (11) guru memberikan penghargaan kepada kepada kelompok yang berhasil
    dengan baik menjawab setiap pertanyaan.
                Menurut
    Anita Lie (2004: 46)
    Teknik
    Think-Pair-Share
    (TPS) memiliki
    kebaikan sebagai berikut :
    1)Mudah
    dibagi secara berpasangan
    , 2)Lebih
    banyak ide yang muncul
    , 3)Lebih  banyak tugas yang bisa dilakukan, 4) Guru mudah memonitor, 5) Meningkatkan partisipasi siswa
    dalam berdiskusi
    . Menurut
    Anita Lie (2004: 460)
    Teknik
    Think-Pair-Share
    (TPS) memiliki
    kelemahan sebagai berikut :
    1) Memerlukan
    waktu yang lebih lama
    , 2) Memerlukan
    sosialisasi yang lebih baik
    , 3) Jumlah
    genap menyulitkan  dalam proses
    pengambilan suara
    , 4) Kurang
    kesempatan untuk konstribusi individu
    , 5) Siswa mudah melepaskan diri dari
    keterlibatan dan tidak memperhatikan.
    Jadi model pembelajaran
    kooperatif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
    bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil untuk sampai pada keberhasilan
    belajar yang optimal baik secara kelompok maupun individu.
    Muslimin Ibrahim. dkk adalah
    “Pembelajaran yang memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk
    memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab dan saling membantu
    satu sama lain”.
    Pembelajaran teknik
    TPS untuk
    meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran orang lain. Siswa
    tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi siswa harus mengembangkan
    pola pikir dengan ide-ide baru dalam memahami materi yang diberikan sehingga
    dapat memotivasi siswa yang lainnya agar memiliki pola pikir yang baik pula.
    Selain itu, pembelajaran TPS adalah
    pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta
    bekerjasama dengan orang lain. Keunggulan lain Think-Pair-Share (TPS) adalah optimalisasi partisipasi siswa (Anita
    Lie,  2004: 57).
    Oleh karena itu penulis berupaya untuk menggunakan Teknik
    TPS dalam proses belajar mengajar di kelas VII
    I A SMP Negeri 2 Jangkang, dengan tujuan agar siswa
    bisa lebih mudah menerima materi pelajaran kalau siswa bisa memecahkan masalah
    yang disampaikan oleh guru, dengan cara kerja kelompok atau berpasangan, yang
    akhirnya akan bisa meningkatkan hasil belajarnya.
    Kerangka berpikir
    di dalam penelitian ini adalah bahwa si
    penulis bagaimana melakukan penelitian.
    Penelitian ini berawal dari kondisi si peneliti/guru belum menggunakan model
    pembelajaran, sehingga siswa hasil belajar masih rendah. Oleh karena itu, si
    penulis melakukan tindakan dengan
    menggunakan model pembelajaran yang digunakan yang dilakukan melalui dua
    siklus. Setelah dilakukan tindakan oleh si pen
    ulis, maka pada kondisi akhir hasil
    belajar dapat meningkat. Dengan demikian, penelitian tentang meningkatkan
    hasil belajar siswa menggunakan teknik TPS
    pada pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII
    I A SMP Negeri 2 Jangkang dapat
    dikatakan berhasil sesuai yang diharapkan.
                Berdasarkan pada kajian teori dan
    kerangka berpikir, maka pe
    nulis
    yang sekaligus sebagai guru mata pelajaran
    Bahasa
    Indonesia
    di SMP
    Negeri
    2
    Jangkang yang semula dalam pelaksaan pembelajaran
    Bahasa
    Indonesia
    di kelas VIII A, masih menggunakan cara/system
    konvensional/ tradisional dalam hal ini masih menggunakan cara ceramah dan
    bercerita, sehingga anak belum bisa menerima pelajaran dengan baik sehingga
    nilai akhir pada semester
    genap tahun 2016/2017 belum memuaskan karena masih dibawah KKM. Oleh karena itu, pada semester ganjil
    tahun pelajaran 2017/2018

    berupaya untuk mengubah cara/system yang diterapkannya dengan mengunakan Teknik
    TPS, dan diharapkan agar setelah penerapan Teknik TPS ini hasil akhir pada
    semester
    ganjil
    tahun
    pelajaran
    2017/2018 akan
    meningkat, dan akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
                 
    Metodologi adalah ilmu mengenai cara-cara mencapai tujuan (Eka Prihatin,
    2008:59). Sedangkan m
    etode berarti cara yang dipergunakan untuk mencapai
    tujuan (
    Hadari Nawawi, 2005 : 62). Karena penelitian ini bermaksud untuk mengetahui
    hasil dari proses pembelajaran, maka penelitian ini berbentuk Penelitian
    Tindakan.
    Metode yang digunakan dalam
    penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan. Metode ini merupakan prosedur
    pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek/objek
    penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana
    adanya (Hadari Nawawi, 2005:63).
    Sejalan dengan Sugiyono
    (2012 :2)
    mengemukakan bahwa Metode
    Penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan
    dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu
    sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan
    mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan.
    Sedangkan bentuk
    penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas
    (PTK). Menurut Urai Husna Hasmara (2007:62) Penelitian Tindakan Kelas
    didefinisikan “sebagai sutu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan
    melakukan tindakan-tindakan tertentu dengan tujuan memperbaiki atau
    meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih professional.
    Hopkin (dalam Indrawati 2008:6)
    mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah tindakan yang diambil guru
    untuk meningkatkan dirinya atau teman sejawatnya untuk menguji asumsi-asumsi
    teori pendidikan didalam praktik, atau mempunyai makna aebagai evaluasi dan
    implementasi keseluruhan prioritas sekolah
    . Peneliti
    memilih bentuk penelitian PTK karena peneliti ingin
    mengungkapkan keadaan yang
    sebenarnya tentang upaya meningkatkan hasil belajar
    siswa kelas VIII A menggunakan Teknik TPS di SMP
    Negeri
    2
    Jangkang.
    Penelitian ini akan dilakukan
    pada siswa kelas VI
    II A SMP Negeri 2
    Jangkang
    Kecamatan Jangkang Kabupaten Sanggau. Hal
    ini dilakukan  karena
    untuk
    mempermudah penelitian sehubungan dengan si
    penulis
    sebagai guru di kelas tersebut sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran di
    kelas
    . Sedangkan penelitian ini dilaksanakan bulan November 2017
    Semester  ganjil
    tahun pelajaran 2017/2018. Ditinjau
    dari segi waktu serta perubahan sistem dan iklim belajar dipandang tepat pada
    bulan
    November.
                Subjek
    penelitian ini adalah siswa kelas VI
    II A SMP
    Negeri
    2 Jangkang  Kecamatan Jangkang Kabupaten
    Sanggau
      karena
    berdasarkan latar belakang bahwa jarak siswa ke sekolah cukup jauh sehingga
    hasil
    belajar rendah. Hal ini terlihat selama proses belajar mengajar yaitu pada
    semester
    genap tahun pelajaran 2016/2017.
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia subjek diartikan sebagai pokok bahasan. Oleh
    karena itu, subjek penelitian ini berjumlah 33 siswa dengan rincian
    18
    siswa laki-laki dan 1
    5 siswa perempuan.
    Menurut Kamus Besar Bahasa
    Indonesia (2001:899) yang dimaksud prosedur adalah “tahap kegiatan untuk
    menyelesaikan suatu aktivits”.
    Penelitian ini dilakukan bersama-sama
    atau berkolaborasi antara guru kelas VI
    II
    dan  guru kelas IX
     SMP Negeri 2
    Jangkang,
     Kecamatan Jangkang
    Kabupaten Sanggau
    dan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas
    (Classroom Action Research)
    dengan  
    dua siklus
    dilaksanakan dalam
    empat kali pertemuan. Pada setiap siklus
    dilakukan 4 tahap kegiatan, yaitu perencanaan,
    pelaksanaan
    tindakan,
    obsevasi, dan refleksi.
    Teknik
    pengumpulan data sangat diperlukan dalam setiap penelitian agar nantinya data
    benar-benar valid dan reliabel. Selain itu kecermatan dalam memilih dan
    menyusun teknik pengumpulan data juga sangat berpengaruh terhadap kelengkapan
    objektifivitas dari hasil penelitian. Sehubungan dengan itu menurut
     Zuldafrial
    (2012 : 38) beberapa teknik dan alat pengumpul data adalah :
    a) Teknik observasi langsung, b) Teknik observasi tidak langsung, c) Teknik komunikasi langsung, d) Teknik komunikasi tidak langsung, e) Teknik studi documenter, f) Teknik pengukuran
    Dari
    berbagai macam teknik yang sudah disebutkan, maka peneliti menggunakan beberapa
    teknik pengumpul data, yaitu sebagai berikut :
    a.Teknik Observasi Langsung, Menurut Zuldafrial (2012 : 39) , yang
    dimaksud dengan
    teknik
    observasi langsung adalah suatu metode pengumpulan data secara langsung dimana
    peneliti ataupun observer mengamati gejala-gejala yang diteliti dari suatu
    objek penelitian menggunakan atau tanpa menggunakan instrument penelitian yang
    sudah dirancang. Gejala-gejala yang dilihat langsung dicatat dalam instrument
    atau lembar catatan.
    b.
    Teknik Pengukuran
    . Menurut
    Suharsimi (dalam Nurhasan, 2001 : 3-4)
    mengemukakan bahwa pengukuran adalah   pengumpulan data atau informasi dari suatu
    objek tertentu dan dalam proses pengukuran diperlukan suatu alat ukur.
    Sedangkan menurut Iqbal Hasan (2004 : 14) pengukuran adalah usaha untuk
    memberikan nomor pada benda-benda atau peristiwa-peristiwa menurut suatu aturan
    tertentu.
    Instrumen  pengumpulan data dalam penelitian ini
    dilakukan dengan menggunakan
    lembar observasi dan tes hasil belajar. Proses pengumpulan data didalam suatu penelitian dapat
    dilakukan dengan mempergunakan satu atau lebih alat pengumpul data. Adapun alat
    pengumpulan data yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah dengan lembar
    observasi dan tes hasil belajar.
    a.  Lembar observasi. Lembar observasi digunakan bila
    penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam
    dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar ( Sugiyono, 2013 : 203).
    Observasi dalam penelitian ini merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
    mengamati secara langsung objek penelitian yaitu guru dan siswa yang
    melaksankan pembelajaran. Dalam observasi ini digunakan lembar pengamatan
    proses pembelajaran untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas belajar siswa
    dan guru dengan menggunakan teknik TPS.
    b.
    Soal tes tertulis
    . Bentuk
    tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dalam bentuk uraian. Bentuk tes
    urain ini dipilih untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami pelajaran yang
    telah disampaikan pada saat proses belajar mengajar.
    Dalam
    penelitian ini akan dilakukan analisis data dengan membandingkan antara
    keberhasilan belajar siswa pada siklus I dan siklus II, sesuai dengan standar
    KKM, untuk memperjelas analisis data akan ditampilkan dalam bentuk tabel atau
    grafik.
    Melalui Penelitian ini
    diharapkan dapat  meningkatkan hasil

    belajar siswa kelas VII
    I A di SMP Negeri 2 Jangkang. Hal ini
    ditandai dengan adanya peningkatan presentase
    ketuntasan
    belajar siswa
    setelah tindakan jika dibandingkan dengan sebelum
    tindakan.
    Untuk
    mengukur keberhasilan  pelaksanaan
    tindakan kelas menggunakan 2 siklus, yakni siklus I dan siklus II,
    dengan
    indikator penelitian ini
    yaitu
    :1) Kesesuaian strategi
    pembelajaran  minimal 70% dengan
    penyajian yang dilakukan selama proses pembelajaran.
    2) Terjadinya perubahan dalam kegiatan
    pembelajaran  minimal 70% yang terlihat
    dari sikap siswa, misalnya antusias dalam belajar, aktif dan paham terhadap
    materi yang sedang dipelajari.
    3) Siswa
    memperoleh nilai rata-rata sebesar 70 di atas KKM dan tingkat daya serap siswa
    mencapai 75%.
    HASIL DAN PEMBAHASAN
    PENELITIAN
                Penelitian ini adalah Penelitian
    Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach).
    Penelitian dilakukan dalam dua siklus yang berkolaboratif dengan teman sejawat,
    ya
    itu guru Bahasa
    Indonesia
    lainnya yang
    ju
    ga mengajar di SMP
    Negeri
    2
    Jangkang, sebagai observer. Untuk masing-masing siklus akan dilaksanakan dalam
    tahapan-tahapan pelaksanaan penelitian yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan,
    observasi dan refleksi. Siklus I dilaksanakan dalam
    dua kali pertemuan dengan alokasi
    waktu 2×40 menit. Dalam penelitian ini penulis berkolaborasi dalam penyusunan
    RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dengan teman sejawat sebagai observer,
    menyusun skenario langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan
    Teknik TPS pada pokok
    bahasan memahami teks drama dan novel remaja.
    A.  Deskripsi Pra Tindakan
                Penelitian Tindakan Kelas ini
    dilakukan di SMP Negeri
    2
    Jangkang yang beralamat di Jalan
    Merakai,
    Kecamatan
    Jangkang,
    Kabupaten
    Sanggau,
    Provinsi Kalimantan Barat, letak SMP
    Negeri
    2
    Jangkang ini cukup strategis karena berada di
    Ibu Kota
    Kecamatan
    dan mudah
    dijangkau oleh siswa. Siswa yang masuk di SMP Negeri
    2 Jangkang berasal dari
    kampung-kampung sekitar wilayah kecamatan Jangkang, ada juga yang berasal dari
    luar kecamatan Jangkang bahkan ada yang dari luar kabupaten Sanggau. Orang tua
    siswa sebagian besar bekerja sebagai petani ladang berpindah dan juga berkebun
    karet, ada yang PNS dan berwiraswasta, sehingga mempengaruhi kondisi ekonomi
    keluarga siswa.
                SMP Negeri 2 Jangkang terdiri dari 9 rombongan
    belajar
    , kelas VII ada
    3
    rombongan belajar
    ya
    itu A, B dan C, kelas VIII ada 3 rombongan
    belajar
    yaitu A, B dan C serta kelas IX juga ada 3 rombongan
    belajar yaitu
    A, B dan C, selain itu juga ruang
    Kepala Sekolah, ruang TU, ruang Guru, ruang perpustakaan, ruang UKS,
    laboratorium IPA, laboratorium computer, gud
    ang, dapur ,WC dan lapangan
    olahraga
    . SMP Negeri 2 Jangkang memiliki 8 guru PNS termasuk Kepala Sekolah
    yang sekaligus mengajar guru Bahasa Indonesia,
    guru
    matematika,
    guru IPS,
    guru agama Katolik, guru Bahasa Inggris, dan guru Olahraga
    . Selain guru
    PNS di SMP Negeri 2 Jangkang memiliki 2 guru honor daerah, 5
    orang guru honor
    sekolah (BOS)
    , dan
    sebagian besar guru yang ada sudah menempuh pendidikan S1, guru tersebut ada
    yang berasal dari kecamatan Jangkang, ada yang dari luar
    kecamatan, bahkan ada yang berasal dari luar
    Pulau Kalimantan ( Pulau Jawa).
                Sebelum melakukan Penelitian
    Tindakan Kelas siklus I, pen
    ulis
    melakukan kegiatan pra tindakan pada hari
    Jumat tanggal 10 November 2017 pada pukul 09.15 sampai 10.35 atau jam ke 4 dan ke 5 di kelas VIII A, kegiatan ini dilakukan untuk
    mengetahui bagaimana keadaan siswa sebelum pelaksanaan siklus terutama mengenai
    hasil belajarnya sebelum penerapan teknik
    TPS, pada kegiatan pra tindakan ini
    pen
    ulis masih menggunakan
    metode ceramah dan Tanya jawab.
    Kegiatan
    pra tindakan ini merupakan kegiatan untuk mengawali Penelitian Tindakan Kelas
    atau sebelum digunakannya teknik
    TPS pada
    pembelajaran
    Bahasa Indonesia.
    Pada pelaksanaan pra tindakan ini melalui tiga tahap, yakni perencanaan,
    pelaksanaan, dan hasil. Perencanaan yaitu dengan menyususn RPP dan dilaksanakan
    pada tanggal
    9 November
    201
    7.
                Langkah-langkah pelaksanaan
    Pembelajaran Bahasa Indonesia

    pada tahap pra tindakan adalah sebagai berikut :
    1) Guru membuka pelajaran dengan
    mengucapkan salam
    . 2) Guru
    mengecek kehadiran siswa dan kesiapan siswa untuk pelaksanaan kegiatan belajar
    mengajar.
    3) Guru
    melakukan apersepsi untuk memotivasi minat belajar siswa.
    4) Guru menjelaskan materi pelajaran
    dengan menggunakan metode yang biasa digunakan oleh guru yakni ceramah
    bervariasi.
    5) Guru
    memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan soal latihan pra tindakan.
    Berdasarkan hasil pengamatan pada pra
    tindakan  yang masih menggunakan metode
    ceramah, pengorganisasian  dan alokasi
    waktu belum maksimal
    ,
    belum terlaksana dengan baik
    .
    Hal ini karena
    metode ceramah ini sangat membosankan bagi siswa,
    siswa belum memahami pelaksanaan pembelajarannya,
    penjelasan  tentang indi
    kator pembelajaran yang ingin
    dicapai kurang jelas
    . Guru
    kurang mampu mengembangkan bahan ajar sehingga materi yang disampaikan kurang
    diserap oleh sisiwa.
      Berdasarkan hasil ulangan pada pra
    tindakan diperoleh data sebagai berikut :
    Tabel
    4.1 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VII
    I A SMP Negeri 2 Jangkang

    Grafik
    4.1 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VII
    I A SMP Negeri 2 Jangkang

    Dari
    tab
    el 4.1   nilai akhir hasil belajar siswa pra tindakan
    tersebut dapat dijelaskan bahwa, melalui metode ceramah dan tanya jawab
    diperoleh jumlah siswa yang tuntas ada
    8 siswa dan yang belum tuntas ada
    25 siswa
    dari 33 siswa yang menjawab soal atau yang
    mengikuti tes pada pra tindakan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara
    klasikal nilai yang dicapai siswa belum tuntas
    dan masih dikategorikan kurang atau
    belum mencapai persentasi ketuntasan yang ditentukan, karena siswa yang
    memperoleh nilai 70 atau lebih hanya sebanyak
    8 siswa atau  24%  lebih kecil dari persentase ketuntasan yang
    dikehendaki yaitu sebesar
    75%.
    B.  Prosedur Tindakan pada Siklus I
                Tabel berikut merupakan waktu
    pelaksanaan dan pokok bahasan yang diajarkan pada siklus I.
    Tabel
    4.2 waktu
    pelaksanaan dan pokok bahasan siklus I
                Pada tindakan siklus I penulis melaksanakan tindakan dengan
    berkolaborasi dengan guru mata pelajaran
    Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Jangkang yakni Bapak Sacekavianus
    Kavia
    . Prosedur yang
    digunakan dalam
    penelitian
    siklus I ini dilakukan dalam empat tahap, yakni perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (Observing), dan refleksi
    (reflecting). Selanjutnya
    penelitian tindakan kelas di kelas VII
    I A SMP Negeri 2 Jangkang pada siklus I sebagai berikut :
    a.  Perencanaan (Planning).
    Tahap
    perencanaan dilakukan
    untuk
    mem
    ecahkan
    permasalahan pada pra tindakan terkait hasil belajar siswa belum mencapai
    ketuntasan secara klasikal.
    Ini
    disebabkan guru terus-menerus ceramah memaparkan materi pembelajaran yang
    cenderung satu arah dan lebih mendominasi dalam proses pembelajaran. Akibatnya
    siswa cenderung malas mendengarkan penjelasan guru.
    Perencanaan siklus I dilaksanakan
    hari
    Senin,
    tanggal
    13 November
    201
    7. Sebelum membuat
    perencanaan , pen
    ulis
    melakukan diskusi
    dengan guru
    Bahasa Indonesia
    sebagai observer mengenai pembelajaran
    Bahasa Indonesia yang akan menggunakan teknik TPS. Setelah sepakat maka peneliti dan
    guru bersama-sama membuat rencana pembelajaran (RPP), menyususun bahan ajar/
    materi, mempersiapkan media atlas, dan menyusun instrument penilaian.
    Selain rencana pembelajaran, penulis dan observer menyiapkan pedoman
    observasi yang akan digunakan dalam mengamati kegiatan pembelajaran pada saat
    melaksanakan pembelajaran menggunakan teknik TPS. Pedoman-pedoman observasi
    yang dipersiapkan sebagai berikut :
    1) Pedoman observasi kemampuan guru
    dalam melaksanakan pembelajaran
    . 2) Pedoman
    observasi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran terutama dengan
    menggunakan teknik TPS
    . 
    b.  Pelaksanaan (Acting)      
    Tindakan
    siklus I dilaksanakan pada hari 
    Selasa 
    tanggal
    14
    November 2017 pada pukul  09.15
    sampai
    10.35
    WIB dengan alokasi waktu yang digunakan 2 x 40 menit. Tindakan ini merupakan
    pelaksanaan perencanaan pembelajaran yang sudah direncanakan.
    Tindakan pelaksanaan yang dilakukan
    secara garis besar adalah pembelajaran dengan menerapkan/menggunakan teknik TPS
     untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada
    tahap ini, dilakukan dalam tiga tahap proses belajar mengajar, yaitu apersepsi,
    pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. Pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan
    sebagai berikut :
    a) Kegiatan
    Pembelajaran I
    . Kegiatan
    Pembelajaran yang I membahas tentang 
    teks
    drama dan novel (unsur intrinsik teks drama)
    , yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 14 November
    2017
    pukul 09.15 sampai 10.35 WIB. b) Kegiatan Pembelajaran II. Kegiatan pembelajaran pada
    pertemuan II ini membahas tentang
    Pengidentifikasian
    unsur intrinsik teks drama
    .
    Pertemuan II ini dilaksanakan pada hari
    Jumat tanggal 17 November 2017, mulai pukul 09.15 sampai 10.35
    WIB.
    c.    
    Pengamatan
    (Observing)
    .
    Pengamatan
    hasil siklus I
    , dalam
    proses  pengamatan yang dilakukan oleh
    pen
    ulis dan observer,
    yang mengamati kejadian-kejadian selama proses pembelajaran yang telah
    dilaksanakan  dengan panduan obsevarsi
    yang telah disiapkan baik untuk siswa maupun untuk guru.    Pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran,
    bahwa pengorganisasian materi ajar ( keruntutan, sistematika materi dan
    kesesuaian dengan alokasi waktu) sudah menunjukkan perubahan ke yang lebih
    baik, karena pelaksanaannya lebih baik daripada pra tindakan, tapi
    langkah-langkah pembelajaran masih membingungkan siswa sehingga siswa belum
    memahami pelaksanaan pembelajarannya. Pengamatan terhadap  kegiatan belajar siswa,  bahwa siswa sudah mulai memperhatikan
    penjelasan guru walaupun ada beberapa siswa yang  masih sibuk mengerjakan hal-hal di luar
    pembelajaran sehingga kurang memperhatikan dan mengamati penjelasan guru.
    Selain itu respon sis
    wa
    terhadap proses pembelajaran sudah mulai aktif , sudah mulai timbul
    keingintahuan lebih dalam terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
                  Pengamatan terhadap hasil belajar,
    berdasarkan hasil tes pada siklus I diperoleh data sebagai berikut:
    Tabel
    4.
    3 Ketuntasan
    belajar Siswa Kelas VII
    I
    A SMP Negeri
    2
    Jangkang
    Grafik 4.2 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang
                  Berdasarkan perolehan nilai siswa pada siklus
    I dapat diketahui bahwa telah terdapat peningkatan perolehan hasil belajar
    siswa kalau dibandingkan dengan perolehan nilai pada pra tindakan, walaupun
    hanya 
    54% yang tuntas, dari tabel perolehan
    nilai pra tindakan yang tuntas hanya 
    8 siswa, sedangkan pada siklus I
    dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan yang tuntas sebanyak 1
    8 siswa. Ini membuktikan dengan penerapan
    teknik TPS dalam pembelajaran
    Bahasa Indonesia
    dapat meningkatkan hasil belajar siswa, jika dibandingkan dengan penerapan
    metode konvensional ataupun ceramah, karena hal ini siswa ikut aktif mencari
    dan menemukan sendiri mas
    alah
    yang d
    iberikan
    oleh guru,
    walaupun
    peningkatan hasil belajar siswa belum maksimal sesuai
    yang diharapkan, masih banyak siswa yang memperoleh
    nilai di
    bawah KKM.
    d.    Refleksi (Reflecting)
                Kegiatan refleksi  dilakukan hari  Sabtu, 18 November 2017. Pada kegiatan refleksi penulis dan observer menilai hasil
    pekerjaan siswa pada siklus I. Peneliti dan obsever melaksanakan kegiatan
    refleksi dengan cara menganalisis hasil pengamatan pada saat pen
    ulis melaksanakan tindakan. Adapun
    hasil refleksi peneliti dan observer sebagai berikut
    : 1)   Sebelum
    melakukan kegiatan refleksi, pen
    ulis
    dan observer menilai keaktifan   siswa
    saat diskusi kelompok pada pembelajaran sebelumnya berdasarkan pedoman
    penilaian pada tanggal
    15 November 2016.
    Hasil penilaian menunjukkan bahwa nilai rata-rata
    hasil belajar siswa dalam pembelajaran
    menggunakan teknik TPS pada siklus I adalah 
    54%
    tuntas.
    2) Pelaksanaan pembelajaran belum  sesuai dengan alokasi waktu,  ketidaksesuaian alokasi waktu tersebut
    disebabkan adanya gangguan yaitu ada
    dua kelompok siswa masih
    kebingungan.
    3) 
    Siswa yang tidak aktif dalam kelompoknya ada 1
    5 siswa (tiga kelompok pasangan),
    sedangkan
    18  siswa aktif mengikuti pembelajaran
    mendiskusikan soal pada lembar kerja siswa.
                Berdasarkan hasil refleksi tersebut
    pen
    ulis dan observer
    dapat menyimpulkan bahwa indikator kinerja siklus I belum tercapai. Oleh karena
    itu, pen
    ulis
    dan observer sepakat untuk melaksanakan siklus II. Pada siklus II diharapkan
    dapat memperoleh hasil yang baik. Masalah-masalah pada siklus I dicari
    pemecahnya, sedangkan kelebihan-kelebihannya dipertahankan dan ditingkatkan.
    C.   Prosedur Tindakan pada Siklus II
                         Tabel berikut merupakan waktu
    pelaksanaan  dan pokok bahasan yang akan
    diajarkan pada siklus II.
    Tabel 4.4  waktu pelaksanaan dan pokok bahasan siklus II

    Hasil refleksi, observasi dan penilaian siklus I,
    siklus II ini kelanjutan dari siklus I, metode yang diterapkan pada siklus II
    ini sama dengan siklus I yakni masih menggunakan teknik TPS materi yang
    diajarkan masih kelanjutan dari siklus I, tentang
    Memahmi teks drama dan novel remaja. Kekurangan-kekurangan yang
    terjadi pada siklus I akan diperbaiki pada pelaksanaan siklus II, dengan
    langkah-langkah yang sama dengan siklus I yakni perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflection).

    a.    Perencanaan (planning).
                Pelaksanaan siklus II ini juga penulis
    masih berkolaborasi dengan guru mata
    pelajaran
    Bahasa Indonesia
    yang mengajar di SMP Negeri
    2
    Jangkang, yakni bapak
    Sacekavianus Kavia. Perencanaan pada siklus II ini
    dilaksanakan pada hari
    Senin,
    tanggal
    20 November  2017, setelah ada kata sepakat, penulis dan guru kolaborator bersama-sama
    membicarakan bagaimana teknis pelaksanaan proses belajar mengajar.
    Tahap perencanaan dilakukan upaya
    memecahkan permasalahan  pada refleksi
    siklus I terkait hasil belajar siswa yang belum mencapai indi
    kator keberhasilan. Selain itu juga
    proses pembelajaran yang dilaksanakan belum dikatakan berhasil, maka dilakukan
    perencanaan tindakan siklus II dengan memperhatikan kekurangan pada tindakan
    siklus I. Setelah sepakat pen
    ulis
    dan guru bersama-sama membuat rencana pembelajaran (RPP), menyususun bahan
    ajar/ materi, mempersiapkan media dan menyusun instrument penilaian.
                Penulis dan observer menyiapkan pedoman
    observasi yang akan digunakan dalam mengamati kegiatan pembelajaran pada saat
    melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan teknik TPS. Pedoman-pedoman
    observasi yang dipersiapkan sebagai berikut :
    1)  Pedoman observasi kemampuan guru dalam
    melaksanakan pembelajaran.
    2) 
    Pedoman observasi keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran.
    b.    Pelaksanaan tindakan (action).
                Pelaksanaan tindakan yang
    dilaksanakan sebagai berikut :
    a) Kegiatan
    Pembelajaran I
    . Pada
    kegiatan pembelajaran yang I ini dilaksanakan pada hari
    Selasa tanggal 21 November 20176, pada pukul 09.15 sampai 10.35 WIB yang akan membahas materi
    tentang
    membuat sinopsis no­vel remaja Indonesia. B) Kegiatan Pembelajaran II. Pada
    k
    egiatan pembelajaran
    II ini dilaksanakan pada hari
    Kamis
    tanggal 2
    3
    November 2017, pada pukul 07.00 sampai 08.20 WIB
    yang membahas materi tentang
    membuat sinopsis novel remaja.
    c.     Pengamatan (Observing)
                Dalam pengamatan pada siklus II penulis sekaligus guru mata pelajaran Bahasa
    Indonesia
    mengamati
    proses pembelajaran bersama guru observer, mengamati kejadian selama proses
    pembelajaran yang dilaksanakan dengan panduan observasi yang disiapkan untuk
    siswa maupun guru.
    Dari
    pengamatan observer (kolaborator), bahwa pelaksanaan pembelajaran pada siklus
    II sudah meningkat, guru selaku pen
    ulis telah memperbaiki kekurangan yang
    terjadi pada siklus I, pengorganisasian materi ajar sudah baik, kejelasan
    skenario pembelajaran
    sudah
    baik. Penjelasan guru mengenai indi
    kator pembelajaran yang ingin dicapai sudah dijelaskan
    secara maksimal
    dan
    sudah baik dalam mengembangkan materi ajar sehingga materi yang
    disampaikan  tersebut mudah dipahami oleh
    siswa
    .  Siswa
    tidak kebingungan karena sudah dua kali diterapkan teknik TPS kondisi kelas
    sudah kondusif. Siswa sudah memanfaatkan sumber belajar lainnya  seperti buku mata pelajaran
    Bahasa
    Indonesia
    yang lainnya
    yang berkaitan dengan materi yang dipelajari yang ada di perpustakaan..
                 Memperhatikan hasil siklus II menunjukkan
    keberhasilan penelitian tindakan kelas yang di lakukan di kelas VII
    I A SMP Negeri 2 Jangkang seperti pada data
    berikut:
    Tabel
    4.3 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VII
    I A SMP Negeri 2 Jangkang
    Grafik
    4.3 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VII
    I A SMP Negeri 2 Jangkang


    d.   Refleksi
    ( Reflecting)
                  Refleksi merupakan suatu bentuk
    perenungan yang mendalam dan lengkap atas apa yang telah terjadi. Refleksi
    akhir siklus merupakan pengungkapan atau mencari jalan keluar dari permasalahan
    yang terdapat dalam proses pembelajaran
    . Pada pengamatan terhadap rencana pelaksanaan
    pembelajaran dimana pengorganisasian materi ajar, skenario pembelajaran,
    indikator pembelajaran dan pengembangan
    materi ajar terlaksana dengan baik, selain itu aktifitas siswa dalam proses
    pembelajaran di kelas sudah mengalami peningkatan, serta nilai tes menunjukkan
    persentase pencapaian hasil yang sudah 
    maksimal
    ,
    serta  indikator keberhasilan dalam penelitian.    Berdasarkan hasil refleksi di siklus II
    menunjukkan tercapainya indi
    kator
    keberhasilan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas VII
    I A SMP Negeri 2 Jangkang terutama mengenai ketuntasan hasil belajar. Memperhatikan seluruh aspek
    pengamatan dan hasil refleksi siklus II, peneliti sekaligus guru mata pelajaran
    Bahasa Indonesia dan
    guru kolaborator/observer menyimpulkan bahwa indi
    kator pelaksanaan penelitian yang
    sudah tercapai.
                Pelaksanaan pembelajaran awal pra tindakan belum sesuai
    dengan rencana, disebabkan
    sebagian
    siswa mengalami tingkat kebosanan dalam proses pembelajaran
    dengan menggunakan metode ceramah, diketahui bahwa pelajaran Bahasa
    Indonesia
    merupakan
    pelajaran yang banyak
    pemahaman sehingga
    membuat mereka bosan sehingga tujuan pembelajaran pun belum tercapai, yang
    berdampak pada hasil belajar . Hasil belajar merupakan tingkat penguasaan yang
    telah dicapai setelah mengikuti pelajaran dengan tujuan yang telah ditetapkan.
    Purwanto ( 2011 : 25 ) mengemukakan
    bahwa yang dimaksud
    dngan hasil belajar adalah sesuatu yang telah dicapai dari apa yang telah
    dilakukan
    . Sejalan
    dengan pendapat Lunandi, (1984 : 57)
    mengemukakan bahwa hasil belajar di sekolah
    formal dapat diadakan melalui ulangan-ulangan, ujian-ujian. Sedangkan menurut
    Roestyah (2003 : 89)
    mengemukakan
    bahwa hasil belajar adalah merupakan nilai keberhasilan siswa dalam kelas
    setelah mengalami evaluasi.
    Dengan demikian hasil belajar dapat di ukur melalui nilai berupa angka yang
    didapat dari soal tes, dalam penelitian ini soal tes untuk mengukur berhasil
    tidaknya proses pembelajaran menggunakan tes
    uraian, yang terdiri dari 3 soal pada siklus I
    dan 2 soal pada siklus II
    .
                Pada pra tindakan guru memperoleh kesimpulan bahwa
    siswa dalam pembelajaran menggunakan metode ceramah membuat suasana
    pembelajaran yang monoton, siswa bosan,
    dan perhatian siswa terhadap penjelasan
    guru kurang diserap
    ,
    karena beberapa siswa sibuk dengan kegiatannya di kelas, seperti melamun dan
    mencoret-coret kertas
    dan lain-lain.
    Kondisi seperti tersebut
    berdampak pada hasil belajar yang
    diperoleh,
    dapat kita lihat pada hasil evaluasi  pra
    tindakan yang berkaitan dengan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran
    masih
    dikategorikan kurang.
    2.    Hasil Penelitian Siklus I
                  Pelaksanaan pembelajaran siklus I
    belum  sesuai dengan rencana, hal ini
    dikarenakan sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar
    dengan teknik TPS. Suasana yang baru membuat mereka
    perlu perhatian khusus
    .
    Dalam proses
    pembelajaran masih ada siswa yang belum mengerti arti pembelajaran yang
    disampaikan
    , karena
    perhatian yang kurang fo
    kus
    terhadap informasi yang didapat.
    Pada
    siklus I ini penguasaan materi oleh siswa sudah mencapai kategori cukup dengan
    perolehan rata-rata nilai pada saat tes ulangan tertulis adalah
    65,2%. Siswa yang mengalami ketuntasan/
    sesuai dengan KKM sebanyak
    18
    siswa, sedangkan
    15
    siswa belum mencapai ketuntasan.
    Siklus I ini terdapat
    beberapa kekurangan-kekurangan yang akan diperbaiki pada saat pelaksanaan
    siklus II, baik tentang proses pembelajaran yang dilakukan oleh pene
    liti ataupun belajar siswa.
    3.    Hasil Penelitian Siklus II
                Pelaksanaan pembelajaran siklus II sudah sesuai dengan
    rencana, kekurangan-kekurangan yang dialami pada siklus I sudah diperbaiki,
    pada siklus II ini penguasaan materi oleh siswa sudah dikategorikan baik dengan
    perolehan nilai rata-rata
    77,4%,
    siswa yang mengalami ketuntasan mencapai 2
    7 siswa, sedangkan 6 orang siswa akan dilakukan
    remedial.
    Pada
    pembahasan ini diuraikan hasil penelitian
    tentang peningkatan hasil belajar siswa menggunakan teknik TPS  di kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang. Setelah menggunakan teknik TPS   pada tindakan siklus I dan siklus II terdapat
    peningkatan hasil belajar siswa kelas VII
    I A, hal ini dikarenakan dengan menggunakan teknik TPS  lebih memudahkan siswa dalam memahami materi
    yang diajarkan oleh guru.
    Penggunaan teknik TPS  dapat meningkatkan hasil belajar siswa , ini
    terbukti dengan peningkatan persentase hasil belajar, keaktifan siswa dalam
    pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat
    dilihat dari naiknya rata-rata kelas dari pra siklus sebesar
    53,6% kemudian siklus I sebesar 65,2% dan pada siklus II terdapat
    peningkatan sebesar
    77,4%
    dengan jumlah siswa mencapai KKM ? 70 , pada pra siklus sebanyak
    8 orang siswa, siklus I sebanyak 18 orang siswa dan siklus II sebanyak
    2
    7 orang siswa .
    Persentase ketuntasan pada pra siklus
    24%, siklus I 54% dan sikus II 81%, sehingga pada akhir siklus II sudah mencapai kriteria ketuntasan 75% dan mencapai
    lebih dari KKM ? 70 dan yang belum mencapai KKM ada
    6 orang siswa akan diberikan
    remedial lagi supaya
    bisa
    mencapai ketuntasan KKM seperti apa yang diharapkan.
    Grafik
    4.4: Nilai Rata-Rata Hasil Belajar Siswa
    Grafik
    4.5 : Hasil Ketuntasan Belajar Siswa
                  Berdasarkan hasil pengamatan
    kegiatan siswa pada pra tindakan, siswa masih kurang aktif
    . Keaktifan siswa belum Nampak, hal ini disebabkan karena proses
    pembelajaran masih didominasi oleh guru
    , sehingga banyak siswa yang merasa bosan, guru belum
    menggunakan metode/
    teknik
    yang menarik siswa un
    tuk
    lebih aktif,
    namun
    setelah pelaksanaan siklus I, guru telah menggunakan
    teknik TPS, siswa mulai kelihatan
    aktif dalam pembelajaran walupun masih canggung dan kaku karena belum terbiasa
    . Siswa sudah mulai mau bertanya
    ataupun mulai mau menjawab pertanyaan walaupun belum sempurna/ tepat.
                  Didasarkan
    atas
    hasil yang
    diperoleh dari pra tindakan, siklus I dan siklus II baik dalam proses
    pembelajaran ataupun keaktifan siswa dan dalam hasil belajar siswa, bahwa
    dengan menggunakan
    teknik
    TPS dalam mata pelajaran
    Bahasa Indonesia terdapat
    peningkatan hasil
    yang sesuai
    dengan
    harapan. Oleh
    karena itu,
    dengan
    menggunakan
    teknik
    TPS
    dalam mata
    pelajaran
    Bahasa Indonesia sangat cocok untuk digunakan.
                Berdasarkan hasil penelitian yang
    telah dilakukan
    serta paparan  pada hasil penelitian dan pembahasan, maka disimpulkan bahwa penelitian tentang upaya
    peningkatan hasil belajar dengan

    menggunakan
    teknik TPS  dalam proses pembelajaran Bahasa
    Indonesia
      di kelas VIII A SMP Negeri 2 Jangkang meningkat. Teknik TPS   ini
    digunakan setiap kali pertemuan dalam siklus I ataupun siklus II, dan dari
    siklus I dan siklus II masing-masing siklus dilakukan sebanyak dua kali
    pertemuan telah menunjukkan hasil yang memuaskan
    . Diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa
    kelas VII
    I
    A SMP Negeri
    2
    Jangkang, dari persentase perolehan hasil belajar siswa, pra tindakan
    24% , yaitu 8 siswa memperoleh nilai sesuai atau
    lebih dari KKM,
    sedang
    76%, yaitu 25
    siswa memperoleh nilai di bawah KKM
    .
                Secara
    khusus disimpukan sebagai berikut:
    1.   
    Pada
    siklus I terdapat peningkatan nilai hasil belajar
    yaitu 18 siswa atau 54% yang memperoleh nilai di atas atau
    sama dengan
    KKM,
    sedang
    15
    siswa atau
    46%
    , nilainya masih dibawah KKM
    .
    2.   
    Sedangkan pada
    siklus II diperoleh nilai belajar siswa lebih meningkat
    yaitu 27 siswa atau 81% memperoleh nilai di atas atau sama
    dengan
    KKM, sedangkan 6 siswa atau 19% memperoleh nilai masih dibawah
    KKM
    . Jadi peningkatan hasil
    belajar siswa
    dari pra
    tindakan kemudian pelaksanaan siklus I terdapat peningkatan 3
    0%, dan setelah pelaksanaan siklus
    II terdapat peningkatan 2
    7%.
    Asmara, Urai Husna.
    (2007). Penulisan Karya Ilmiah.
    Pontianak: Fahruna Bahagia.
    Erthy,
    Margaretha. (2014) Penerapan Model
    Pembelajaran Inkuiri Pada Materi Limas Ditinjau Dari Aktivitas Belajar Siswa
    Kelas VIII SMP Negeri 1 Tayan Hulu
    . IKIP –PGRI Pontianak : Tidak
    diterbitkan.
    Departemen Pendidikan Nasioanal, (2001): Kamus Besar
    Bahasa Indonesia.
      Jakarta:
         Balai Pustaka.
    Dimyati dan
    Mudjiono. (2009). Belajar dan
    Pembelajaran
    . Jakarta : PT. Rineka Cipta.
    Hasan,Iqbal
    (2004). Analisis Data Penelitian Dengan
    Ststistik
    . Jakarta : Bumi Aksara
    Ibrahim, Muslimin, dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya :
    University Press.
    Kodir,Abdul.
    (201
    0). Strategi Belajar Mengajar. Bandung :
    Pustaka Setia.
    Lie, Anita. (2004). Cooperative Learning : PT . Gramedia Widiasarana Indonesia.
    Lunandi,
    A.G. (1984). Evaluasi Pembelajaran.
    Jakarta: Media Pustaka.
    Moh. User
    Usman dan Lilis Setiawati, (2001). Upaya
    Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar
    . Bandung : Remaja Rosdakarya.
    Nawawi, Hadari. (2005). Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gajahmada University
    Press
    .
    Nurhasan.
    (2001). Tes Dan Pengukuran Dalam
    Pendidikan Jasmani
    . DepDikBud : Jakarta.
    Prayitno.
    (2009). Dasar Teori dan Praktis Pendidikan.
    Bandung : Grasindo.
    Prihatin, Eka. (2008). Guru Sebagai Fasilitator. Bandung: PT Karsa Mandiri Persada.
    Purwanto,
    (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung
    : PT. Remaja Rosdakarya.
    …………, (2011). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
    Roestyah, N.K. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT Rafika Aditama.
    Saud, U.S
    dan Makmus A.S (2009). Perencanaan
    Pendidikan
    . (cet. IV). Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
    Sudjana, Nana. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (cet.XV). Bandung : PT.
    Remaja Rosdakarya
    Sugiyono. (2013). Metode
    Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D
    .
    Bandung Alfabeta.
    Suprijono, Agus. (2009). Cooperative
    Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.     
    Yogyakarta
    : Pustaka Belajar.
    Surakhmad, Winarno (1980). Interaksi Belajar Mengajar. Bandung : Jemmars.
    Trianto
    (2007), Model-model Pembelajaran Inovatif
    berorientasi konsturktivikasi
    , Jakarta : Prestasi Pustaka Raya.
    Undang-Undang
    Republik Indonesia Nomor 20. (2003). Tentang
    Sistem Pendidikan Nasional
    . Bandung: Citra Umbara.
    Yana
    Wardana. (2010). Teori Belajar dan
    Mengajar
    . Bandung : PT Pribumi Mekar.
    Zuldafrial.(2012). Penelitian Kuantitatif Yogyakarta :
    Melia Perkasa.


    Like it? Share with your friends!