Strategi Pembenahan Tata Niaga Karet melalui Networking Entrepreneurship


  • Jumat, 20 November 2020
  • 14:52 WIB
  • Strategi Pembenahan Tata Niaga Karet melalui Networking Entrepreneurship

    Persoalan karet yang selamai ini menjadi keluhan petani saat ini adalah soal harga, perbedaan harga antara pabrik dan petani sangat tinggi, karena rantai pasok yang terlalu panjang sehingga karet kehilangan nilai tambah. Rantai pasok komoditas karet melibatkan dua hingga tiga tingkat perantara atau pengepul. Kondisi tersebut juga diperparah dengan pengepul yang seenaknya mengatur harga, yang mengakibatkan harga yang diterima petani rendah dan tidak menguntungkan.Selain persoalan rantai pasok yang panjang, persoalan lain yang menentukan harga karet petani adalah produk karet yang dihasilkan masih rendah terkait dengan benih yang digunakan serta pemasaran produk karet oleh petani masih bersifat konvensional.

    Perbaikan terhadap harga produk karet petani harus dimulai dari tingkat hulu yakni penerapan budidaya dan pasca panen yang baik di tingkat petani, mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat dan penerapan pasca panen karet yang baik dan benar.

    Strategi tata niaga produk karet melalui networking entrepreneurship atau jejaring usaha menjadi alternatif yang sangat relevan dengan kondisi lapangan. Hal itu karna sistematis dan berdampak luas kepada masyarakat dan pemerintah daerah. Salah satu upayanya, adalah dengan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan olah karet (UPPB) yang bisa memperpendek rantai pasok karet sekaligus menjaga mutu karet. UPPB ini bisa melakukan kerja sama dengan perusahaan karet. Kuncinya ada di daerah, bagaimana mereka bisa seoptimal mungkin mendukung tata niaga karet. Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (UPPB) sendiri pada prinsipnya merupakan bentuk koperasi yang dibentuk oleh petani karet. Oleh karena itu kedepan UPPB bisa mengembangkan usahanya  dan tidak terfokus pada karet saja. Permodalan yang selama ini juga menjadi kendala dapat diatasi oleh adanya Kredit Usaha Rakyat yang disiapkan oleh Bank BRI dengan bunga yang rendah, 6% per tahun.

    Salah satu bentuk networking enterpreneursip yang dilaksanakan adalah adanya MOU Antara UPPB dengan Pabrik Crumb Rubber. Kabupaten Sanggau sendiri sudah melaksanakan hal tersebut dengan adanya MOU Antara UPPB Damai Rindu Kecamatan parindu dengan PT. Kirana Prima, dengan penjualan pertama mencapai 891 kg.

    DPP

    Like it? Share with your friends!