MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALU PENERAPAN METODE KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH DI KELAS VIII A SMP NEGERI 1 JANGKANG


  • Sabtu, 4 April 2020
  • 18:13 WIB
  • data:post.title

    SMP Negeri 1 Jangkang, Kabupaten Sanggau

    ABSTRAK

    Penelitian ini
    dilatarbelakangi oleh
    perolehan
    nilai
    rata-tara siswa
    pada semester
    genap tahun pelajaran 2016/2017, belum memuaskan karena rata-rata
    nilai siswa di bawah KKM, yakni 70
    .
    Siswa dianggap berhasil dalam belajar secara klasikal jika telah mencapai
    85%, dan mendapatkan nilai di atas
    KKM
    atau sama dengan KKM. Masalah utama dalam penelitian ini
    yaitu, “ Bagaimanakah
    Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Dengan Menggunakan Metode
    Kooperatif Tipe Make A Macth di
    Kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang. Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Dengan Menggunakan Metode
    Kooperatif Tipe Make A Macth di
    Kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang. Metode yang
    digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan .
    Sedangkan bentuk
    penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
    Penelitian tindakan kelas diartikan sebagai suatu
    bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan
    tertentu dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan praktek-praktek
    pembelajaran di kelas secara profesional.
    Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Jangkang, penelitian semester ganjil bulan  November  tahun 
    2016.
    Sedangkan Subjek penelitian ini adalah siswa
    kelas VII
    I
    A dengan jumlah
    26
    siswa yang terdiri dari : laki-laki 1
    3 siswa  dan
    perempuan 1
    3
    siswa.
    Peningkatan hasil
    belajar siswa dapat dilihat dari naiknya rata-rata kelas dari pra siklus
    sebesar
    61,69%
    kemudian siklus I sebesar
    72,12%
    dan pada siklus II terdapat peningkatan sebesar
    77,4% dengan jumlah siswa mencapai KKM ?
    70 , pada pra siklus sebanyak
    8
    orang siswa, siklus I sebanyak 1
    8
    orang siswa dan siklus II sebanyak 2
    7 orang siswa . Persentase ketuntasan pada pra siklus 35%, siklus I 73% dan sikus II 92%, terjadi peningkatan persentase
    ketuntasan siswa dari pra tindakan ke siklus I yakni 3
    8 % dan terjadi peningkatan persentase
    ketuntasan dari siklus I ke siklus II yakni
    19%.
    Kata Kunci: peningkatan
    hasil belajar,
    Metode Kooperatif, Tipe Make A Match
                Pendidikan adalah usaha sadar dalam
    rangka menyiapkan siswa melalui bimbingan pengajaran, dan latihan agar siswa
    dapat memainkan peranannya dimasa yang akan datang. Pendidikan adalah kebutuhan
    batiniah yang memegang peranan penting dalam usaha mengembangkan kualitas
    manusia, seperti yang dinyatakan dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sitem
    Pendidikan Nasional yaitu :
    Pendidikan
    nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
    membentuk  watak
    serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
    bangsa, bertujuan untuk berkembangnyapotensi peserta didik agar menjadi manusia
    yang beriman, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara
    yang demokratis serta bertanggungjawab.
    Pada
    saat ini pendidikan menjadi salah satu kebutuhan bahkan suatu keharusan dalam
    kehidupannya. Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu hal
    penting yang harus diperhatikan dalam suatu proses belajar mengajar untuk
    meningkatkan mutu pendidikan.
                Guru perlu menciptakan suasana
    belajar yang menyenangkan, guru harus selalu kreatif dan inovatif dalam
    melakukan pembelajaran agar siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan,
    dan antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar, sehingga pembelajaran
    yang dilaksanakan berkualitas dan berprestasi yang dicapai siswa memuaskan.
    Salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan belajar siswa, yaitu dengan
    menggunakan pembelajaran aktif, di mana siswa dapat mengeluarkan gagasannya,
    memecahkan masalah dan dapat menerapkan apa yang mereka pelajari.  Belajar aktif merupakan langkah cepat,
    menyenangkan, mendukung dan menarik hati dalam belajar untuk mempelajari
    sesuatu dengan baik.
                Berdasarkan pada perolehan nilai
    siswa pada semester genap tahun pelajaran 201
    6-2017 
    kemarin belumlah memuaskan karena rata-rata nilai siswa masih di bawah
    KKM, belum mencapai KKM yakni 70,siswa dianggap berhasil dalam belajar secara
    klasikal apabila telah mencapai 85%, dan telah mendapatkan nilai di atas KKM,
    hal ini di sebabkan karena pada semester 
    sebelumnya yakni kelas VII, guru masih menggunakan metode pembelajaran
    yang masih bersifat konvensional yaitu metode bercerita atau ceramah, yang
    mengharapkan siswa duduk,diam, dengar, catat dan hafal, metode ini selalu
    digunakan dan menjadi pilihan dalam penyampaian materi, dengan metode ini
    mengakibatkan menurunnya motivasi siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik
    dan berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang memuaskan.
    Motivasi sangat penting dalam
    pembelajaran IPS Terpadu, sehingga pada saat pembelajaran berlangsung siswa
    bisa aktif.
                Pembelajaran dengan menggunakan
    metode bercerita atau ceramah yang biasa di terapkan dalam pembelajaran IPS
    Terpadu, menyebabkan siswa lebih cenderung bosan, siswa kurang aktif dalam
    bertanya, menjawab pertanyaan yang di tanyakan oleh guru secara lisan,
    kebanyakan siswa berpendapat bahwa pelajaran IPS sangat membosankan, monoton,
    hal ini dapat dilihat masih kurangnya penguasaan materi pelajaran IPS oleh
    siswa. Guru kadang merasa kebingungan apakah siswa mengerti dan menerima materi
    pelajaran yang di sampaikan oleh guru atau malah siswa tidak menerima atau
    tidak mengerti tentang materi yang di sampaikan, karena pada saat guru
    mengulang materi dan menanyakan tentang materi yang sudah di sampaikan siswa
    hanya duduk terdiam, dan pura-pura berpikir padahal tidak tahu apa yang
    dipikirkan,siswa bersikap acuh tak acuh dan kurang antusias untuk mengikuti
    proses belajar mengajar, terkadang mereka malah berbicara dengan temannya yang
    lain ketika guru sedang menjelaskan, sehingga situasi kelas sedikit gaduh.
                Setelah didiskusikan dengan rekan
    guru IPS Terpadu di SMP Negeri 1 Jangkang, maka rendahnya hasil belajar siswa
    kelas VIII A disebabkan oleh dua fa
    ktor yakni : dari pihak guru seperti, guru masih
    berperan dominan dalam PBM karena masih menggunakan metode ceramah, guru belum
    melibatkan siswa dalam pembelajaran, guru tidak menggunakan teknik lain yang
    digunakan dalam PBM, siswa tidak pernah diberi tugas, dari pihak siswa
    disebabkan oleh : minat belajar siswa masih rendah, kurangnya perhatian siswa
    terhadap materi pelajaran, malas mengerjaka
    n tugas.
                Untuk meningkatkan hasil belajar,
    pen
    ulis sekaligus
    guru mata pelajaran IPS Terpadu menganggap perlu perubahan dalam teknik/metode
    dalam pembelajaran IPS bisa digunakan secara bervareasi, salah satu metode yang
    dapat digunakan adalah metode cooperative
    learning
    , dalam metode kooperatif ini pen
    ulis memilih tipe Make A Match, diharapkan dengan penggunaan tipe Make A Match  ini bisa membuat siswa lebih tertarik dan
    tidak jenuh karena dalam proses pembelajaran ini yang sangat menarik, di
    harapkan dengan menggunakan teknik ini proses belajar mengajar akan lebih
    hidup, mengasyikkan, siswa bisa lebih aktif baik bertanya ataupun dalam
    menjawab pertanyaan, dan yang lebih di harapkan lagi meningkatnya hasil belajar
    siswa menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan semester sebelumnya.
                Berdasarkan latar belakang yang
    dikemukakan, pen
    ulis
    menetapkan masalah utama dalam penelitian ini yaitu, “ Bagaimanakah Upaya
    Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Dengan
    Menerapkan metode Kooperatif tipe Make A
    Macth
    di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang” Untuk menfokuskan masalah
    dalam penelitian ini maka
    dibuatlah
    sub-sub masalah, adalah sebagai berikut :1
    ) Bagaimanakah penerapan  metode kooperatif tipe Make A Match dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
    pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang?
    2) Bagaimanakah peningkatan  hasil belajar siswa melalui penerapan metode
    kooperatif tipe Make A Match pada
    mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A 
    SMP Negeri 1 Jangkang?
                Berdasarkan rumusan masalah dan
    sub-sub masalah yang telah dikemukaan, maka tujuan penelitian ini  adalah untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar 
    dengan menggunakan metode kooperatife tipe Make A Match dalam pembelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A di SMP
    Negeri 1 Jangkang
    .
    Secara khusus penelitian bertujuan, yaitu :
    1)  Untuk mengetahui penerapan metode kooperatif
    tipe Make A Match dalam upaya
    meningkatkan  hasil belajar siswa di
    kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang dalam mata pelajaran IPS Terpadu
    . 2) Untuk mengetahui peningkatan  hasil belajar siswa melalui penggunaan metode
    kooperatife tipe Make A Match di
    kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang.
                Adapun
    manfaat yang dapat diambil dari penelitian tindakan kelas melalui penggunaan
    metode kooperatif tipe make a match untuk
    meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A di
    SMP Negeri 1 Jangkang, adalah :
    1) Manfaat Teoritis.Secara teoritis, hasil penelitian
    ini diharapkan dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan, dan dapat
    dijadikan alternatif strategi pembelajaran dalam pelajaran IPS Terpadu
    . 2)  Manfaat
    Praktis
    . a) Bagi
    siswa, diharapkan siswa dapat menambah
    wawasan dan menambah ilmu pengetahuan yang luas khususnya di dalam mata
    pelajaran IPS Terpadu.
    b)  Bagi guru, diharapkan
    penelitian ini dapat menjadi motivasi bagi guru mata pelajaran IPS Terpadu dan
    alternative dalam pembelajaran IPS terpadu untuk meningkatkan hasil belajar
    siswa.
    c)
    Bagi Sekolah
    , diharapkan
    penelitian ini bisa untuk pertimbangan dalam menciptakan suasana belajar yang
    menyenangkan dan dapat memotivasi guru bidang studi yang lain untuk menggunakan
    metode kooperatif
    .
              Belajar adalah suatu proses yang
    dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahankah tingkah laku yang baru secara
    keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interksi dengan
    lingkungannya (Slameto dalam Kodir, 2011 : 20), sedang Prayitno (2009 : 203)
    menyatakan bahwa  belajar merupaka proses
    perubahan tingkah laku individu yang diperoleh melalui pengalaman, melalui
    proses stimulus respon, melalui pembiasaan,melalui peniruan, melalui pemahaman
    dan penghayatan, melalui aktivitas individu untuk meraih sesuatu yang
    dikehendakinya.
    Menurut
    Wardhana, Y (2010 : 3), belajar di anggap sebagai perubahan perilaku yang
    merupakan akibat dari pengalaman dan latihan. Belajar merupakan proses
    perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan, belajar bukan sekedar
    mengumpulkan pengetahuan, tetapi merupakan proses mental yang terjadi dalam
    diri seseorang, sehingga menyebabkan perubahan perilaku.
                Usman dan Setiawati (2001 : 5)
    menyatakan belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkat
    adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya, seseorang yang telah
    mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek
    pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap, misalnya dari yang tidak bisa
    menjadi bisa, dari yang ragu menjadi yakin. Kriteria keberhasilan dalam belajar
    diantaranya ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri
    individu yang belajar.
    Belajar
    merupakan kebutuhan hidup manusia yang self
    generating
    yaitu mengupayakan dirinya sendiri agar dapat menuju tujuan
    tertentu dengan peningkatan diri. Belajar dilakukan manusia baik secara sadar
    maupun tidak sadar. Ada dua macam dorongan yang membuat manusia terus belajar
    sepanjang hidupnya, yaitu : agar mampu mencapai kemandirian dan mampu beradaptasi
    terhadap perubahan lingkungan. Belajar bukan hanya untuk pembentukan pola pikir
    te tapi lebih bersifat menyeluruh yang menjadikan seseorang menjadi manusia
    seutuhnya.
                Belajar yang efektif dapat membantu
    siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan
    instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru
    harus memperhatikan kondisi internal dan eksternal siswa. Kondisi internal
    adalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, seperti kesehatan,
    keterampilan, kemampuan dan sebagainya. Kondisi eksternal adalah kondisi yang
    ada diluar pribadi siswa,  misalnya ruang
    belajar yang bersih, sarana dan prasarana belajar yang memadai dan sebagainya.
    Hasil belajar dapat dijelaskan
    dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”.
    Pengertian hasil menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu
    aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.
    Sedangkan belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada
    individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi
    hasil belajar. Hasil belajar sering kali digunakan sebagai ukuran untuk
    mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai suatu bahan yang sudah diajarkan.
    Purwanto (Erthy, 2014 : 26) mengatakan, untuk mengaktualisasikan hasil belajar
    tersebut diperlukan sebagai serangkaian pengukuran menggunakan alat evaluasi
    yang baik dan memenuhi syarat.
                Menurut Winarno Surakhmad (1980 :
    25) hasil belajar diartikan sebagi ulangan, ujian atau tes, maksud ulangan
    tersebut ialah untuk memperoleh suatu indek dalam menentukan keberhasilan
    siswa, atau suatu prestasi belajar siswa yang dicapai siswa dalam proses
    kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah
    laku seseorang.
    Menurut Udin Syaefudin Sa ud,M.Ed. (2009 : 118)
    bahwa hasil suatu pembelajaran di samakan dengan tujuan yang ingin dicapai dari
    suatu perbuatan. Keberhasilan suatu proses pengajaran biasanya diukur dari
    sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru.
                Selanjutnya Suprijono (2009 : 5)
    hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,
    sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk Gagne (Suprijono, 2009 : 5)
    hasil belajar berupa : (1). Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan
    pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan rangsangan spesifik. Kemampuan
    tersebut tidak memerlukan  manipulasi
    symbol, pemecahan masalah maupun penerapan atura,(2) Keterampilan intelektual
    yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Kemampuan intelektual
    merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas, (3) Strategi
    kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya
    sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan
    masalah,(4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
    jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak
    jasmani, (5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan
    penilaian objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan
    eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai
    sebagai standar perilaku.
                Hasil belajar merupakan salah satu
    bentuk penilaian dalam pelaksanaan kurikulum ada dua hal yang sangat penting
    untuk dijadikan sasaran evaluasi dalam pelaksanaan kurikulum, yaitu hasil
    belajar siswa tiap semester dan daya capai kurikulum pada tiap sekolah. Hasil
    belajar adalah kemampuan yang dimiliki sisa setelah menerima pengalaman belajar
    (Sudjana, 2010 : 22).
    Menurut
    Dimyati dan Mudjiono (2009 : 3) hasil belajar merupakan tujuan akhir
    dilaksanakannya kegatan pembelajaran di sekolah. Hasil belajar dapat
    ditingkatkan melalui usaha sadar yang dilakukan secara sistematis mengarah
    kepada perubahan yang positif yang kemudian disebut proses belajar. Akhir dari
    proses belajar adalah perolehan suatu hasil belajar kelas. Semua hasil belajar
    tersebut merupakan  hasil dari suatu
    interaksi tindk belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar
    diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, sedangkan dari sisi siswa, hasil
    belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar.
                Gagne dalam Sudjana (2010 : 22)
    mengembangkan hasil belajar  menjadi lima
    macam antara lain : (1) hasil belajar intelektual merupakan hasil belajar
    terpenting dari sitem lingsikolastik, (2) strategi kognitif yaitu cara mengatur
    belajar dan berfikir seseorang dalam arti seluas-luasnya termasuk kemampuan
    memecahkan masalah, (3) sikap dan nilai, berhubungan dengan arah intensitas
    emosional yang dimiliki seseorang sebagaimana disimpulkan dari kecenderungan
    bertingkah laku terhadap orang dan kejadian, (4) informasi verbal, pengertian
    dalam arti informasi dan fakta, dan (5) keterampilan motorik yaitu kecakapan
    yang berfungsi untuk lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan
    lambang.
                Faktor-faktor yang mempengaruhi
    hasil belajar adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan dalam jangka waktu
    tertentu hasilnya dilihat dari prestasi atau perubahan tingkah laku yang
    terjadi pada diri siswa. Menurut Purwanto 
    (1990 : 103 ) dalam bukunya psikologi pendidikan hasil belajar akan
    dipengaruhi oleh beberapa fa
    ktor
    , yaitu  (a) fa
    ktor intern meliputi : (1)
    kematangan, (2) kecerdasan dan intelegensi, (3) lstihsn atau ulangan, (4)
    motivasi, (5) sifat pribadi, (b) fa
    ktor ekteren meliputi : (1) tingkat sosial ekonomi orang tua, (2)
    lingkungan, (3) fasilitas belajar, (4) fa
    ktor guru dan cara mengajar. Dari pendapat beberapa ahli yang
    telah mengemukakan pendapatnya tentang hasil belajar, dapat disimpulkan bahwa
    hasil belajar merupakan suatu hasil yang didapat siswa dalam periode tertentu
    melalui suatu proses belajar mengajar dengan adanya suatu perubahan tingkah
    laku yang lebih baik, dan dinyatakan dengan suatu angka-angka.
    2.  Metode Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) 
    Anita
    Lie (1992 : 12) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran
    yang memberikan kesempatan  kepada siswa
    untuk bekerjasama dengan sesama siswa lainnya dalam menyelsaikan tugas-tugas
    terstruktur.
    Depdiknas (2003 :
    5) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif adalah
    merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil sisa yang saling bekerja
    sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan.  Menurut Usman (2002 :30) pembelajaran
    kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, selain itu juga
    efektif untuk mengembangkan ketrampilan social siswa.
    Menurut
    Nurhadi ( 2003 : 60 ) yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif adalah suatu
    system yang didasarkan pada alas an bahwa manusia sebagai makhluk individu yang
    berbeda satu sama lain sehingga konsekwensi logisnya manusia harus menjadi
    makhluk yang berinteraksi dengan sesam
    a, sedangkan 
    Suprijono, Agus (2010 : 54), yang dimaksud dengan pembelajaran
    kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok
    termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru.
    Berdasarkan beberapa pengertian
    mengenai pembelajaran yang telah dikemukakan oleh beberapa tokoh, dapat
    disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran kooperatif adalah,
    merupakan pembelajaran dengan pengelompokan siswa, yang secara sadar dan
    sistematis mengembangkan interaksi untuk mencapai tujuan dan pengalaman yang
    optimal baik individu maupun kelompok.
    Anita
    Lie (2004 : 31) menyatakan bahwa ada lima unsure dalam model pembelajaran
    kooperatif yaitu :
    1) Saling
    keterganungan posistif artinya dalam pembelajaran kooperatif guru menciptakan
    suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang
    saling ketergantungan positifmenuntut adanya interaksi promotif yang
    memungkinkan sesame siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar
    yang optimal.
    2) Tanggungjaab
    positif, artinya unsurini merupakan akibat langsung dari unsur pertama, setiap
    siswa akan merasa bertanggungjawab untuk melakukan yang terbaik.
    3)Tatap muka, artinya setiap kelompok
    harus diberikan kesempatan bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini
    akan memberikan peran pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan
    semua siswa.
    4) Komunikasi
    antar anggota, arinya unsure ini menghendaki agar pembelajaran dibekali dengan
    berbagai ketrampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok
    pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi, keberhasilan suatu kelompok
    juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan
    kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
    5) Evaluasi proses kelompok, artinya
    pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi
    proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja
    sama dengan efektif.
    Jadi
    dalam pembelajaran kooperatif terdapat lima unsure yang harus terpenuhi agar
    mencapai hasil yang maksimal.
    Muslimin
    Ibrahim, dkk (2000 : 7) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dikembangkan
    untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yaitu :
    1) Hasil belaajaar akademik,
    pembelajaran kooperatif bertujuan meningkatkan penilaian siswa pada belajar
    akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
    2) Penerimaan terhadap perbedaan
    individu. Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda
    latar belakang  dan kondisi untuk bekerja
    saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama.
    3) Pengembangan ketrampilan social,
    tujuan penting ketiga dari dari pembelajaran kooperatif ialah mengajarkan
    kepada siswa ketrampilan kerjasam dan kolaborasi. Ketrampilan ini amat penting
    untuk dimiliki di dalam masyarakat dimana banyak kerja orang dewasa sebagian
    besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan
    dimana masyarakat secara budaya semakin beragam.
    Anita
    Lie ( 2004 : 17 ) menyebutkan ada beberapa kebaikan proses pembelaajaran
    kooperatif adalah sebagai berikut : 1). Sisswa dapat meningkatkan kemampuannya
    untuk bekerjasam dengan siswa yang lain. 2) Siswa mempunyai lebih banyak
    kesempatan untuk menghargai perbedaan. 3). Partisipasi siswa dalam proses
    pembelajaran dapat meningkat.4) mengurangi kecemasan siswa (kurang percaya
    diri). 5). Meningkatkan motivasi, harga diri, dan sikap positif. 6).
    Meningkatkan prestasi belajar siswa.
    Anita
    Lie  (2000 : 46) mengemukakan kelemahan
    dari pembelajaran kooperatif adalah :
     1) Model ini kadang-kadang menuntut pengaturan
    tempat duduk yang berbeda-beda. 2) Kerja kelompok sering hanya melibatkan siswa
    yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang. 3).
    Model ini akan gagal apabila siswanya pasif, tidak komunikatif dan sifat egois
    siswa yang tinggi.
    Menurut Rusman (2011 : 223) Model Make A Match (membuat pasangan)
    merupakan salah satu jenis dari metode pembelajaran  kooperatif, metode ini dikembangkan oleh
    Lorna Curran (1994), salah satu keunggulan teknik ini adalah peserta didik
    mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topic, dalam suasana
    yang menyenangkan. Sedangkan menurut Anita Lie (2008 : 56) menyatakan bahwa
    model pembelajaran tipe Make A Match atau
    bertukar pasangan merupakan teknik belajar yang memberikan kesempatan siswa
    untuk bekerjasama dengan orang lain.
    Dari pendapat beberapa tokoh
    tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model Make A Match merupakan model pembelajaran kooperatif dengan mencari
    pasangan, yang dapat melatih siswa untuk berpartisipasi aktif dalam
    pembelajaran secara merata serta menuntut siswa bekerja sama dengan anggota
    kelompoknyaagar bertanggungjawab dapat tercapai sehingga semua siswa aktif
    dalam proses pembelajaran.
    Adapun
    langkah-langkah dalam tipe Make A Match adalah:
    1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang
    berisi beberapa konsep atau topic yang cocok untuk sesi review, satu bagian
    berupa kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
    2) Setiap siswa mendapat satu buah
    kartu.
    3) Setiap
    siswa memikirkan jawabannya atau soal dari kartu yang dipegangnya.
    4) Setiap siswa mencari pasangan yang
    mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.
    5) Setiap siswa yang dapat mencocokkan
    kartunya sebelum batas waktu bisa diberi poin.
    6) Setelah satu babak kartu dikocok
    lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari peserta didik yang lain.
    Menurut
    Miftahul Huda (2013 : 253), kelebihan dan kelemahan tipe Make A Match adalah :
    a) Kelebihan
    meliputi: 1)
    Dapat
    meningkatkan aktivitas belajar siswa baik secara kognitf maupun fisik.
    2) Karena ada unsur permainan, metode
    ini menyenangkan.
    3) Meningkatkan
    pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi
    belajar siswa.
    4) Efektif
    sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi.
    5) Efektif melatih kedisiplinan siswa
    menghargai waktu untuk belajar.
    b) Kelemahan
    meliputi: 1)
    Jika
    strategi ini tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu yang terbuang.
    2) Pada awal-awal penerapan metode ini
    banyak siswa yang akan malu berpasangan dengan lawan jenis.
    3) Jika guru tidak mengarahkan siswa
    dengan baik akan banyak siswa yang memperhatikan pada saat presentasi pasangan.
    4) Guru harus hati-hati dan bijaksana
    saat member hukuman pada siswa yang tidak mendapat pasangan karena mereka bisa
    malu.
    5) Menggunakan
    metode ini secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan.
    Setiap
    Model pembelajaran mengarah
    diterapkan
    untuk mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa
    sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan)
    merupakan pembelajaran yang teknik mengajarnya dengan mencari pasangan melalui
    kartu pertanyaan dan kartu jawaban yang harus ditemukan dan didiskusikan oleh
    pasangan siswa tersebut, model pembelajaran ini merupakan salah satu alternative
    yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
    Model Make A Match ini sangat efektif untuk membantu siswa dalam memahami
    materi melalui permainan mencari kartu jawaban dan pertanyaan, sehingga dapat
    menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan..
                Dalam kegiatan proses belajar
    mengajar tentu saja akan mempunyai suatu tujuan, yang mana tujuan itu tidak
    hanya bagi siswa saja tetapi tujuan tersebut tentu diharapkan pula oleh orang
    tua, guru maupun pihak sekolah. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan itu
    dibutuhkan suatu proses kegiatan belajar mengajar yang kondusif, menyenangkan,
    melibatkan banyak pihak dalam hal ini guru dan siswa.
    Proses pembelajaran yang masih
    menggunakan system konvesional, yakni ceramah atau bercerita sangat membosankan,
    monoton, siswa tidak aktif, dan cenderung diam (pasif). Metode ceramah ini
    masih sering digunakan oleh para guru untuk menyampaikan materi pembelajaran.
                Pada semester sebelumnya, proses
    belajar mengajar masih didominasi oleh guru atau guru sebagai pusat
    pembelajaran sehingga siswa sering mengalami kebosanan dan kurang memahami
    dengan materi yang disampaikan oleh guru, siswa kurang aktif, siswa hanya
    menunggu informasi yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa kurang
    bersemangat dan kurang antusias diberikan tugas, sehingga perlu adanya suatu
    cara untuk bisa mengubah keadaan tersebut.
                Hasil belajar siswa pada semester
    genap tahun 2015-2016 yang dilihat dari nilai raport masih kurang memuaskan
    berada di bawah KKM terutama kelas VIII A sehingga peneliti yang juga guru
    ingin mengubah cara /pola mengajar pelajaran IPS Terpadu terutama di kelas VIII
    A. Model pembelajatan yang ingin diterapkan di kelas VIII A yaitu dengan
    menerapkan mmodel pembelajaran tipe Make
    A Match
    (mencari pasangan) teknik ini 
    akan benyak melibatkan siswa dalam pembelajaran, siswa diminta untuk
    mencari pasangannya yang cocok sesuai dengan kartu yang dipegang, antara soal
    pertanyaan dan jawaban. Jadi pada teknik ini siswa akan lebih aktif untuk
    mencari pasangannya, suasana belajar juga menyenangkan tidak membosankan, guru
    sudah tidak dominan, anak tidak hanya menerima transfer ilmu dari guru, tetapi
    siswa lah yang mencari ilmu tersebut.
    Diharapkan agar dengan penerapan tipe Make A Match (mencari pasangan) dalam
    pembelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A, akan bisa meningkatkan hasil belajar
    pada semester ganjil tahun ajaran 2016-2017.
                Berdasarkan pada kajian teori dan
    kerangka berpikir, maka pen
    ulis
    yang sekaligus sebagai guru mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 1 Jangkang
    yang semula dalam pelaksaan pembelajaran IPS Terpadu di kelas VIII A, masih
    menggunakan cara/system konvensional/ tradisional dalam hal ini masih
    menggunakan cara ceramah dan bercerita, sehingga anak tidak /belum bisa
    menerima pelajaran dengan baik sehingga nilai akhir pada semester ganjil belum
    memuaskan karena masih dibawah KKM.
             Oleh karena itu, pada semester genap guru  berupaya untuk mengubah cara/system yang
    diterapkannya dengan mengunakan model pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) dan diharapkan agar setelah
    penerapan model Make A Match (mencari pasangan) ini hasil akhir pada semester
    ganjil tahun ajaran 201
    7-2018 akan meningkat, dan akan
    mendapatkan hasil yang memuaskan yakni di atas KKM.
    Metode
    penelitian merupakan panduan yang digunakan untuk mengontrol jalannya  penelitian. Menurut Sugiyono (2012 :2) Metode
    Penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan
    dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu
    sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan
    mengantisipasi masalah dalam bidang pendidikan.
     Metode yang
    digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan . Metode ini
    merupakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan
    keadaan subjek/objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang
    tampak sebagaimana adanya (Hadari Nawawi, 2005 : 63)
    . Metode ini digunakan untuk
    mengungkapkan keadaan yang sebenarnya tentang upaya meningkatkan hasil belajar
    menggunakan metode pembelajaran tipe Make
    A Match
    (mencari pasangan) di kelas VII A SMP Negeri 1 Jangkang.
                 Bentuk
    penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan
    Kelas diambil dari istialah bahasa Inggris Classroom
    Action Research
      Suharsimi (dalam
    Indrawati 2008:5) menyatakan bahwa penelitian merujuk pada suatu kegiatan
    dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data
    atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik
    minat dan penting bagi peneliti.
    Hopkin
    (dalam Indrawati 2008:6) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah
    tindakan yang diambil guru untuk meningkatkan dirinya atau teman sejawatnya
    untuk menguji asumsi-asumsi teori pendidikan didalam praktik, atau mempunyai
    makna aebagai evaluasi dan implementasi keseluruhan prioritas sekolah
    . Berdasarkan beberapa pendapat yang
    mengemukakan tentang Penelitian Tindakan Kelas dapat disimpulkan bahwa
    penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh seorang
    peneliti atau guru untuk melakukan suatu perubahan dalam suatu metode atau cara
    dalam kegiatan proses belajar mengajar.
    Penelitian
    ini dilakukan bersama-sama atau berkolaborasi antara guru mata pelajaran IPS
    Terpadu di SMP Negeri 1 Jangkang dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan
    Kelas ( Classroom Action Research)
    dengan dua siklus, dan tiap-tiap siklus akan dilaksanakan dalam dua kali
    pertemuan. Pada setiap siklus dilakukan dalam 4 tahap kegiatan, yaitu perencanaan,
    implementasi tindakan, tahap observasi dan refleksi.
    Penulis memilih bentuk penelitian
    kolaboratif dengan guru IPS Terpadu lainnya yang juga mengajar di SMP Negeri 1
    Jangkang, karena peneliti ingin mengetahui proses belajar mengajar.
    Penelitian ini akan dilakukan di
    SMP Negeri 1 Jangkang, penelitian ini di laksanakan pada semester ganjil dari
    bulan November sampai Desember 
    tahun  201
    7. Sedangkan subjek penelitian ini adalah siswa
    kelas VIII A dengan jumlah 26 siswa yang terdiri dari : laki-laki 13 siswa  dan perempuan 13 siswa
    .
                Penelitian ini dilakukan
    bersama-sama atau berkolaborasi antara guru mata pelajaran IPS Terpadu di SMP
    Negeri 1 Jangkang dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan dua
    siklus, dan tiap-tiap siklus akan dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Pada
    setiap siklus dilakukan dalam 4 tahap kegiatan, yaitu perencanaan, implementasi
    tindakan , tahap observasi dan refleksi.1
    ) Perencanaan, pada tahap perencanaan ini, sebagai guru, penulis melakukan refleksi awal dalam
    pembelajaran IPS Terpadu. Pen
    ulis
    merumuskan alternati
    f
    tindakan yang dilaksanakan dalam 
    pembelajaran IPS Terpadu sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar
    siswa kelas VIII A.
    2) 
    Implementasi Tindakan
    , tindakan
    ini diartikan sebagai melaksanakan kegiatan yang sudah diskenariokan dalam
    bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
    . 3) Tahap Observasi, tahap observasi atau pengamatan
    merupakan rangkaian dari tahap tindakan. Kedua tahap ini berlangsung sejalan
    dan pada saat yang bersamaan, observasi terhadap siswa dilakukan oleh guru pen
    ulis, sementara observasi terhadap penulis dan siswa dilakukan oleh mitra
    guru sebagai observatory. Hal-hal yang diobservasi berupa proses atau penerapan
    skenario, respon siswa dan hasil pembelajaran.
    4)
    Tahap Refleksi
    , tahap
    ini dilakukan oleh  guru pen
    ulis dan mitra guru setelah proses
    belajar mengajar berakhir. Peneliti bersama mitra guru menganalisis hasil
    obsevasi baikterhadap pelaksanaan skenario oleh pen
    ulis maupun aktivitas dan hasil siswa.
    Hasil analisis dijadikan acuan untuk membuat perencanaan pada siklus kedua.
    Dalam hal ini dapat. Dalam hal ini dapat diidentifikasi bahwa dalam kegiatan
    refleksi mencakup kegiatan an
    alisis,
    interprestasi dan evaluasi atas informasi yang diperoleh dari kegiatan
    observasi.
    Teknik
    pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu : a) data hasil observasi proses
    pembelajaran
    . b)
    data hasil belajar siswa pada tes awal dan tes akhir
    . Sedangkan instrumen penelitian tindakan kelas
    yang digunakan adalah :
    a) Lembar observasi siswa dan lembar
    obsevasi guru
    , dan b) Soal tes tertulis. Dalam penelitian ini akan dilakukan
    analisis data dengan membandingkan antara keberhasilan belajar siswa pada pra
    siklus, siklus I dan siklus II, sesuai dengan standart KKM, untuk memperjelas
    analisis data akan ditampilkan dalam bentuk tabel atau grafik.
    Untuk mengukur keberhasilan  pelaksanaan tindakan kelas menggunakan 2
    siklus, yakni siklus I dan siklus II, indicator tersebut bila dipaparkan ,
    antara lain :
    1) Kesesuaian strategi pembelajaran
    minimal 70% dengan penyajian yang dilakukan selama proses pembelajaran.
    2) Terjadinya perubahan dalam kegiatan
    pembelajaran minimal 70% yang terlihat dari sikap siswa, misalnya antusias
    dalam belajar, aktif dan paham terhadap materi yang sedang dipelajari.
    3) Siswa memperoleh nilai rata-rata
    sebesar 75 di atas KKM dan tingkat daya serap siswa mencapai 75%
    Bentuk
    penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach). Penelitian ini dilakukan dalam dua
    siklus yang berkolaboratif dengan teman sejawat, yakni guru IPS Terpadu lainnya
    yang juga mengajar di SMP Negeri 1 Jangkang, sebagai observer. Untuk
    masing-masing siklus akan dilaksanakan dalam tahapan-tahapan pelaksanaan
    penelitian yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus
    I akan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dengan alokasi waktu 2×40 menit.
    Dalam penelitian ini penulis berkolaborasi dalam penyusunan RPP (Rencana
    Pelaksanaan Pembelajaran) dengan teman sejawat sebagai observer, menyusun
    skenario langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model
    pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan)pada pokok bahasan Kebutuhan
    Manusia dan Pelaku-
    Pelaku
    Ekonomi di
    Indonesia.
    A.  Deskripsi Pra Tindakan
                  Penelitian
    Tindakan Kelas ini dilakukan di SMP Negeri 1 Jangkang yang beralamatkan di
    Jalan Raya Bengkawan, kecamatan Jangkang, kabupaten Sanggau, propinsi
    Kalimantan Barat, letak dari SMP Negeri 1 Jangkang ini cukup strategis karena
    berada di tepi jalan dan mudah dijangkau oleh siswa. Siswa yang masuk di SMP
    Negeri 1 Jangkang berasal dari kampong-kampung sekitar wilayah kecamatan
    Jangkang, ada juga yang berasal dari luar kecamatan Jangkang bahkan ada yang
    dari luar kabupaten Sanggau. Orang tua siswa sebagian besar bekerja sebagi
    petani ladang berpindah dan juga berkebun karet, ada yang PNS dan
    berwiraswasta, sehingga mempengaruhi kondisi ekonomi keluarga siswa.
                   SMP
    Negeri 1 Jangkang terdiri dari 9 lokal, kelas VII ada 3 lokal yakni A,B dan C,
    kelas VIII ada 3 lokal yakni A,B dan C serta kelas IX juga ada 3 lokal yakni
    A,B dan C, selain itu juga ruang Kepala Sekolah, ruang TU, ruang Guru, ruang
    perpustakaan, ruang UKS, laboratorium IPA, laboratorium computer, aula, gudang,
    dapur dan WC. Fasilitas lain yang di miliki SMP negeri 1 Jangkang yang
    menyangkut proses belajar mengajar seperti gambar-gambar pahlawan, peta, globe,
    atlas, alat peraga IPA, alat peraga Matematika, serta alat peraga olahraga.
    SMP Negeri 1 Jangkang memiliki 9
    guru PNS termasuk Kepala Sekolah yang sekaligus mengajar Matematika, guru
    Bahasa Indonesia, guru IPS, guru agama Katolik, guru Bahasa Inggris, guru BK
    dan guru Olahraga, 4 orang guru honorer, 1 orang guru SM3T yang berasal dari
    Medan, Sumatera Utara, dan sebagian besar guru yang ada sudah menempuh
    pendidikan S1, guru-guru tersebut ada yang berasal dari kecamatan Jangkang, ada
    yang dari luar Jangkang maksudnya dari kecamatan lain, bahkan ada yang berasal
    dari luar Pulau Kalimantan ( Pulau Jawa)
    Sebelum
    melakukan Penelitian Tindakan Kelas siklus I, peneliti melakukan kegiatan pra
    tindakan pada hari
    Selasa
    tanggal 1
    4
    November 201
    7
    pada pukul 08.20 sampai 09.55 atau jam ke 3 dan ke 4 di kelas VIII A, kegiatan
    ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana keadaan siswa sebelum pelaksanaan
    siklus terutama mengenai hasil belajarnya sebelum penerapan model pembelajaran
    tipe make a match (mencari pasangan)
    pada kegiatan pra tindakan ini peneliti masih menggunakan metode ceramah dan
    tanya jawab.
    Kegiatan pra
    tindakan ini adalah merupakan kegiatan untuk mengawali Penelitian Tindakan
    Kelas atau sebelum digunakannya model make
    a match
    pada pembelajaran IPS. Pada pelaksanaan pra tindakan ini melalui
    tiga tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan hasil. Perencanaan yaitu dengan
    menyususn RPP dan dilaksanakan pada hari
    Jumat 10 November 2016.
    Menurut
    hasil pengamatan pada pra tindakan  yang
    masih menggunakan metode ceramah bervareasi, pengorganisasian  dan alokasi waktu belum maksimal karena belum
    terlaksana dengan baik, hal ini karena metode ceramah ini sangat membosankan
    bagi siswa,siswa belum memahami pelaksanaan pembelajarannya, penjelasan  tentang indi
    kator pembelajaran yang ingin
    dicapai kurang jelas,guru kurang mampu mengembangkan bahan ajar sehingga materi
    yang disampaikan kurang diserap oleh sisiwa. Siswa dalam proses pembelajaran
    berlangsung mereka sibuk mengerjakan hal-hal di luar jam pembelajaran sehingga
    kurang memperhatikan  dan mengamati
    penjelasan guru. Selain itu respon siswa akan proses pembelajaran tidak terlalu
    aktif, dimana tidak ada keingintahuan lebih mendalam terhadap materi yang
    disampaikan oleh guru.
          
    Berdasarkan
    hasil ulangan pada pra tindakan diperoleh data sebagai berikut :
    ,Tabel
    4.1 Ketuntasan belajar Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang



       Grafik 4.1 Ketuntasan belajar Siswa Kelas
    VIII A SMP Negeri 1 Jangkang



    Dari
    tabel nilai akhir hasil belajar siswa pada kegiatan pra tindakan tersebut dapat
    dijelaskan bahwa, melalui metode ceramah bervareasi dan tanya jawab diperoleh
    nilai rata-rata siswa yaitu 61,69 dengan jumlah siswa yang tuntas             ada 9 dari 26 siswa yang menjawab
    soal atau yang mengikuti tes pada pra tindakan. Hasil tersebut menunjukkan
    bahwa secara klasikal nilai yang dicapai siswa belum tuntas dan tingkat
    keberhasilannya masih dikategorikan kurang atau belum mencapai persentasi
    ketuntasan yang ditentukan, karena siswa yang memperoleh nilai 70 atau lebih
    hanya sebanyak 9 sisa atau  35%  lebih kecil dari persentase ketuntasan yang
    dikehendaki yaitu sebesar 85 %.
    B.  Prosedur Tindakan pada Siklus I
                Tabel berikut merupakan waktu
    pelaksanaan dan pokok bahasan yang diajarkan pada siklus I.
    Tabel
    waktu pelaksanaan dan pokok bahasan siklus I


    a.)  Perencanaan (Planning),            Pada tindakan siklus I ini penulisi melaksanakan tindakan dengan
    berkolaborasi dengan guru mata pelajaran IPS terpadu SMP Negeri 1 Jangkang
    yakni Bapak Colai Mawardi. Prosedur penelitian pada siklus I ini dilakukan
    dalam empat tahap, yakni perencanaan (planning),
    pelaksanaan tindakan (action),
    pengamatan (Observing), dan refleksi(reflecting). Selengkapnya penelitian
    tindakan kelas di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang pada siklus I adalah
    sebagai berikut :

    Tahap perencanaan dilakukan sebagai upaya memcahkan
    segala permasalahan pada pra tindakan terkait hasil belajar yang siswa belum
    mencapai ketuntasan secara klasikal. Hal ini disebabkan karena guru
    terus-menerus ceramah memaparkan materi pembelajaran yang cenderung satu arah
    dan guru lebih mendominasi dalam proses pembelajaran. Akibatnya siswa cenderung
    malas mendengarkan penjelasan dari guru.
    Perencanaan
    siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 1
    1 November 2017. Sebelum membuat perencanaan , penulis berdiskusi dengan guru IPS sebagai
    observer mengenai pembelajaran IPS terpadu yang akan menggunakan model
    pembelajaran tipe make a match (mencari
    pasangan) . Setelah sepakat maka
    peneliti dan guru bersama-sama membuat rencana pembelajaran (RPP)
    .
                Selain rencana pembelajaran, penulis dan observer menyiapkan pedoman
    observasi yang akan digunakan dalam mengamati kegiatan pembelajaran pada saat
    melaksanakan pembelajaran menggunakan tipa make
    a match
    (mencari pasangan). Pedoman-pedoman observasi yang dipersiapkan sebagai
    berikut :
    1) 
    Pedoman observasi kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran
    . 2) Pedoman observasi keaktifan siswa
    dalam mengikuti pembelajaran terutama dengan menggunakan tipe make a match (mencari pasangan)
    b.  Pelaksanaan (Acting)      
                      Tindakan siklus I dilaksanakan
    pada hari
    Selasa  tanggal 14 November 2017 pada pukul  07.40 sampai 09.00 WIB dengan alokasi waktu
    yang digunakan 2 x 40 menit. Tindakan ini merupakan pelaksanaan perencanaan
    pembelajaran yang sudah direncanakan.
    Tindakan
    pelaksanaan yang dilakukan secara garis besar adalah pembelajaran dengan
    menerapkan/menggunakan tipe make a match
    (mencari pasangan) untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tahap ini,
    dilakukan dalam tiga tahap proses belajar mengajar, yaitu apersepsi,
    pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi.
    c.     Pengamatan (Observing)
                Dalam proses  pengamatan yang dilakukan oleh penulis dan observer, yang mengamati
    kejadian-kejadian selama proses pembelajaran yang telah dilaksanakan  dengan panduan obsevarsi yang telah disiapkan
    baik untuk siswa maupun untuk guru. Pengamatan terhadap pelaksanaan
    pembelajaran, bahwa pengorganisasian materi ajar ( keruntutan, sistematika
    materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu) sudah menunjukkan perubahan ke yang
    lebih baik, karena pelaksanaannya lebih baik daripada pra tindakan, tapi
    langkah-langkah pembelajaran masih membingungkan siswa sehingga siswa belum
    memahami pelaksanaan pembelajarannya.
                Pengamatan terhadap  kegiatan belajar siswa,  bahwa siswa sudah mulai memperhatikan
    penjelasan guru walaupun ada beberapa siswa yang  masih sibuk mengerjakan hal-hal di luar
    pembelajaran sehingga kurang memperhatikan dan mengamati penjelasan guru.
    Selain itu respon sisa terhadap proses pembelajaran sudah mulai aktif , sudah
    mulai timbul keingintahuan lebih dalam terhadap materi yang disampaikan oleh
    guru.

    Tabel 4.2 Ketuntasan belajar Siswa
    Siklus 1
    Kelas VIII A
    SMP
    N 1 Jangkang

    Grafik
    4.
    2 Ketuntasan
    belajar Siswa
    Siklus 1
    Kelas VIII A SMP
    N 1
    Jangkang

                Dari tabel perolehan nilai siswa
    pada siklus I dapat diketahui bahwa telah terdapat peningkatan perolehan hasil
    belajar siswa kalau dibandingkan dengan perolehan nilai pada pra tindakan, walaupun
    hanya  3
    5 
    % yang tuntas, dari tabel perolehan nilai pra tindakan yang tuntas
    hanya  9 orang siswa, sedangkan pada
    siklus I dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan yang tuntas sebanyak
    17  orang siswa. Hal ini membuktikan
    bahwa dengan penerapan model pembelajaran tipe make
    a
    match
    dalam
    pembelajaran IPS Terpadu dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar
    73% atau meningkat sekitar 38% jikalau dibandingkan dengan
    penerapan metode konvensional ataupun ceramah bervareasi, karena dalam hal ini
    siswa ikut aktif mencari dan menemukan sendiri maslah yang deberikan oleh guru,
    alaupun peningkatan hasil belajar siswa belumlah maksimal sesuai dengan
    harapan, masih banyak siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM.
    d.    Refleksi (Reflecting)
                  Refleksi pada dasarnya merupakan
    suatu bentuk perenungan yang sangat  
    mendalam dan lengkap atas apa yang telah terjadi. Refleksi pada akhir
    siklus merupakan pengungkapan atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang
    terdapat dalam proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, dengan kata lain
    pertukaran pendapat antara pen
    ulis
    dan guru kolaborator/ observer atas hal yang telah direncanakan, dilaksanakan,
    dan diobservasi pada siklus tersebut. Pada pengamatan terhadap rencana
    pelaksanaan pembelajaran dimana pengorganisasian materi ajar, skenario
    pembelajaran,indi
    kator
    pembelajaran dan pengembangan materi ajar belum terlaksana dengan baik, selain
    itu aktifitas siswa dalam proses pembelajaran di kelas masih perlu dilakukan
    perbaikan serta nilai tes menunjukkan persentase pencapaian hasil yang belum
    maksimal karena belum termasuk dari indi
    kator keberhasilan dalam penelitian.       
    C.   Prosedur Tindakan pada Siklus II
                  
     Tabel berikut merupakan waktu pelaksanaan  dan pokok bahasan yang akan diajarkan pada siklus
    II.
    Tabel waktu pelaksanaan dan pokok
    bahasan siklus II


    a.    
    Perencanaan
    (planning)
              
    Berdasarkan hasil refleksi, observasi dan penilaian
    pada siklus I, siklus II ini merupakan kelanjutan dari siklus I, metode yang
    diterapkan pada siklus II ini sama dengan siklus I yakni masih
    menggunakan/menerapkan metode pembelajaran make
    a
    match (mencari pasangan) materi
    yang diajarkan masih kelanjutan dari siklus I, tentang pelaku-pelaku ekonomi di
    Indonesia dan koperasi Indonesia. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada
    siklus I akan berusaha diperbaiki pada pelaksanaan siklus II, dengan langkah-langkah
    yang sama dengan siklus I yakni perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observing),
    dan refleksi (reflection)

                Pelaksanaan siklus II ini juga
    masih berolaborasi dengan guru mata pelajaran IPS terpadu yang mengajar di SMP
    Negeri 1 Jangkang, yakni bapak Colai Mawardi .Perencanaan pada siklus II ini
    dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal
    19 November 2017, setelah tercapai kata sepakat, kemudian penulis dan guru kolaborator bersama-sama
    membicarakan bagaimana teknis pelaksanaan proses belajar mengajar.
    Tahap perencanaan dilakukan dalam
    upaya memcahkan segala permasalahan  pada
    refleksi siklus I terkait hasil belajar siswa yang belum mencapai indicator
    keberhasilan. Selain itu juga proses pembelajaran yang dilaksanakan belum
    dikatakan berhasil, maka dilakukan perencanaan tindakan siklus II dengan
    memperhatikan kekurangan pada tindakan siklus I.
                Penulis dan observer menyiapkan pedoman
    observasi yang akan digunakan dalam mengamati kegiatan pembelajaran pada saat
    melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan teknik TPS. Pedoman-pedoman
    observasi yang dipersiapkan sebagai berikut :
    1) Pedoman
    observasi kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
    2) Pedoman observasi keaktifan siswa
    dalam mengikuti pembelajaran.
    Pada
    kegiatan pembelajaran yang I ini dilaksanakan pada hari
    Selasa, tanggal 21 November 2017, pada pukul 07.40 sampai  09 00 WIB yang akan membahas materi tentang pelaku-pelaku
    ekonomi di Indonesia.
    Sedangkan pada
    kegiatan pembelajaran II ini dilaksanakan pada hari
    Kamis,tanggal 23 November 2017, pada pukul 08.40 sampai 09.55 WIB
    yang membahas materi tentang koperasi di Indonesia.
    c.     Pengamatan (Observing)
                Dalam pengamatan pada siklus II penulis sekaligus guru mata pelajaran IPS
    Terpadu mengamati proses pembelajaran bersama dengan guru observer, mengamati
    kejadian-kejadian selama proses pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan
    panduan observasi yang telah disiapkan baik untuk siswa maupun guru
    . Dari pengamatan observer
    (kolaborator), bahwa pelaksanaan pembelajaran pada siklus II sudah meningkat,
    guru selaku pen
    ulis
    telah memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I,
    pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika,materi, dan kesesuaian
    dengan alokasi waktu ) sudah baik, kejelasan skenario pembelajaran(
    langkah-langkah kegiatan pembelajaran ( awal, inti dan akhir) sudah baik.
    Penjelasan guru mengenai indicator pembelajaran yang ingin dicapai sudah
    dijelaskan secara maksimal, guru juga sudah baik dalam mengembangkan
    materi/bahan ajar sehingga materi yang disampaikan  tersebut mudah dipahami oleh siswa,
    siswa sudah tidak kebingungan
    karena sudah dua kali diterapkan metode pembelajaran tipe Make A Match ( mencari pasangan) kondisi kelas sudah kondusif tidak
    ada lagi gangguan-gangguan dari kelas lainnya.Tidak ada siswa yang absen
    artinya, siswa hadir semua saat itu, Siswa sudah memanfaatkan sumber belajar
    lainnya  seperti buku mata pelajaran IPS
    yang lainnya yang berkaitan dengan materi yang dipelajari yang ada di
    perpustakaan..
                         Dengan memperhatikan hasil pada
    siklus II menunjukkan tercapainya keberhasilan penelitian tindakan kelas yang
    di lakukan di SMP Negeri 1 Jangkang di kelas VIII
    A 
    Tabel 4.3 Ketuntasan belajar Siswa
    Siklus II
    Kelas VIII A
    SMP
    N 1 Jangkang

    Grafik 4.3 Ketuntasan belajar Siswa Siklus II Kelas VIII A SMP1 Jangkang

    Dari
    tabel perolehan nilai siswa pada siklus II dapat diketahui bahwa ada
    peningkatan hasil belajar siswa sebesar 92% persen yang tuntas. Dari tabel
    perolehan nilai siklus I yang tuntas sebanyak 19 siswa,sedangkan pada siklus II
    dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan yang tuntas sebanyak 24 siswa. Hal
    ini membuktikan bahwa hasil belajar siswa kalau dibandingkan dengan nilai pada
    saat siklus I mengalami peningkatan walaupun belum bisa semuanya mencapai KKM,
    hal ini dikarenakan 2 siswa tersebut masih ada kelemahannya, yang satu memang
    untuk minat belajarnya kurang hal ini terbukti seringnya siswa tersebut tidak
    masuk sekolah, yang satu lagi karena tidak mempunyai LKS yang bisa dibawa
    pulang sehingga tidak bisa belajar di rumah.

    d.     Refleksi ( Reflecting)
                  Refleksi pada dasarnya merupakan
    suatu bentuk perenungan yang sangat  
    mendalam dan lengkap atas apa yang telah terjadi. Refleksi pada akhir
    siklus merupakan pengungkapan atau mencari jalan keluar dari permasalahan yang
    terdapat dalam proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, dengan kata lain
    pertukaran pendapat antara pen
    ulis
    dan guru kolaborator/ observer atas hal yang telah direncanakan, dilaksanakan,
    dan diobservasi pada siklus tersebut. Pada pengamatan terhadap rencana
    pelaksanaan pembelajaran dimana pengorganisasian materi ajar, skenario
    pembelajaran,indicator pembelajaran dan pengembangan materi ajar belum
    terlaksana dengan baik, selain itu aktifitas siswa dalam proses pembelajaran di
    kelas sudah mengalami peningkatan dengan kata lain sudah baik, serta nilai tes
    menunjukkan persentase pencapaian hasil yang sudah  maksimal karena sudah  termasuk dari indi
    kator keberhasilan dalam
    penelitian.Memperhatiakan hasil refleksi di siklus II menunjukkan tercapainya
    indi
    kator keberhasilan
    penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMP Negeri 1 Jangkang terutama
    kelas VIII A mengalami ketuntasan hasil belajar. Dengan memperhatikan seluruh
    aspek pengamatan dan hasil refleksi siklus II, oleh karena itu, pen
    ulis sekaligus guru mata pelajaran IPS
    Terpadu dan guru kolaborator/observer menyimpulkan bahwa indi
    kator pelaksanaan penelitian yang
    sudah tercapai.
    D.   Pembahasan Hasil Penelitian
                  Dalam pembahasan ini diuraikan
    hasil penelitian mengenai peningkatan hasil belajar melalui penggunaan
    /penerapan metode pembelajaran tipe Make
    A Match
    (mencari pasangan) di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang. Setelah
    menggunakan/menerapkan  metode pembelajaran
    tipe Make A Match pada tindakan
    siklus I dan siklus II terdapat adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas
    VIII A, hal ini dikarenakan dengan menggunakan/menerapkan metode pembelajaran
    tipe Make A Match (mencari pasangan)
    lebih memudahkan siswa dalam memahami materi yang dipelajari/diajarkan oleh
    guru.
                  Dengan menggunakan/menerapkan
    metode pembelajaran tipe Make A Match
    (mencari pasangan) dapat meningkatkan hasil belajar siswa , hal ini terbukti
    dengan peningkatan persentase hasil belajar, keaktifan siswa dalam pembelajaran
    pada siklus I dan siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari
    naiknya rata-rata kelas dari pra siklus sebesar 61,6
    9% kemudian siklus I sebesar 72,12% dan siklus II sebesar 74,23% dengan jumlah siswa mencapai KKM ?
    70
    . Pada pra siklus
    sebanyak 9 orang siswa
    tuntas,
    siklus I sebanyak 19 orang siswa
    tuntas
    dan siklus II sebanyak 24 orang siswa
    tuntas . Persentase ketuntasan pada pra
    siklus 35%, siklus I 73% dan sikus II 92%, sehingga pada akhir siklus II sudah
    mencapai
    kriteria
    ketuntasan 75% dan mencapai lebih dari KKM ? 70 dan yang belum mencapai KKM ada
    2 orang siswa akan diberikan remedial lagi supaya bisa mencapai ketuntasan KKM
    seperti apa yang diharapkan.
                  Berdasarkan pada hasil pengamatan
    kegiatan siswa pada pra tindakan, siswa masih kurang aktif/keaktifan siswa
    belum Nampak hal ini disebabkan karena proses pembelajaran masih didominasi
    oleh guru (guru masih menerapkan metode konvensional yakni ceramah bervareasi)
    sehingga banyak siswa yang merasa bosan, guru belum menggunakan metode/strategi
    yang menarik siswa unruk lebih aktif, tetapi setelah pelaksanaan siklus I, guru
    telah menggunakan model pembelajaran tipe Make
    A Match
    (mencari pasangan), siswa lambat-laun mulai kelihatan aktif dalam
    pembelajaran walupun masih canggung dan kaku karena belum terbiasa, siswa sudah
    mulai mau bertanya ataupun mulai mau menjawab pertanyaan walaupun belum
    sempurna/ tepat.
    Berdasarkan
    hasil yang diperoleh dari pra tindakan, siklus I dan siklus II baik dalam
    proses pembelajaran ataupun keaktifan siswa dan dalam hasil belajar siswa,
    bahwa dengan menggunakanmetode pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan dalam mata pelajaran IPS Terpadu
    didapat peningkatan hasil sesuai dengan yang diharapkan.
                Berdasarkan hasil penelitian yang
    telah dilakukan dan dipaparkan pada hasil penelitian dan pembehasan, maka dapat
    disimpulkan secara umum dari penelitian ini bahwa penggunaan/penerapan metode
    pembelajaran tipe Make A Match
    (mencari pasangan) dalam proses pembelajaran IPS terpadu  di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang dapat
    meningkatkan hasil belajar siswa.
                Model pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan)  ini diterapkan/digunakan setiap kali
    pertemuan dalam siklus I ataupun siklus II, dan dari siklus I dan siklus II
    yang masing-masing siklus dilakukan sebanyak dua kali pertemuan telah
    menunjukkan hasil yang memuaskan, yang mana diketahui adanya peningkatan hasil
    belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang, dari persentase perolehan
    hasil belajar siswa, pra tindakan 35 % , 9 orang siswa  yang memperoleh nilai sesuai ataupun lebih
    dari KKM,sedang 17 (64%) siswa memperoleh nilai kurang/di bawah KKM, pada
    siklus I sudah terdapat peningkatan nilai hasil belajar yakni 19 orang siswa atau
    73% yang memperoleh nilai di atas KKM, sedang 7 orang siswa atau 27% , nilainya
    masih dibawah KKM, pada siklus II diperoleh nilai belajar siswa yang lebih
    meningkat yakni 24 orang siswa atau 92% memperoleh nilai diatas KKM, sedangkan
    2 orang siswa atau 8% memperoleh nilai masih dibawah KKM.
                Dari uraian di atas dapat
    disimpulkan bahwa penggunaan/penerapanmetode pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) pada
    mata pelajaran IPS Trepadu dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A
    SMP Negeri 1 Jangkang. Secara khusus dapat disimpulkan bahwa penerapan model
    pembelajaran tipe Make A Match
    (mencarai pasangan) dalam pembelajaran IPS Terpadu adalah :
    1) Untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran tipe Make A Match (mencari pasangan) dalam
    upaya meningkatkan hasil belajar siswa di kelas VIII A SMP Negeri 1
    Jangkang  pada mata pelajaran IPS
    Terpadu.
    2) Untuk
    mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui penggunaan model
    pembelajaran tipe Make A Match
    (mencari pasangan) di kelas VIII A SMP Negeri 1 Jangkang.
    Anita
    Lie, (2004). Cooperative Learning :
    PT . Gramedia Widiasarana Indonesia.
    …………,(2008).Cooperative Learning, Jakarta : PT Grasindo.
    Dimyati
    dan Mudjiono. (2009). Belajar dan
    Pembelajaran
    . Jakarta : PT. Rineka Cipta..
    Depdiknas,(2003),
    Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta :
    Depdiknas
    .
    Hadari
    Nawawi, (2005), Metode Penelitian Bidang
    Sosial
    , Yogyakarta : Gajahmada University Press
    Muslimin,Ibrahim,
    dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif.
    Surabaya : University Press
    .
    Miftahul
    Huda,(2013), Model-model Pengajaran dan
    Pembelajaran
    , Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
    Moh. User
    Usman dan Lilis Setiawati, (2001). Upaya
    Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar
    . Bandung : Remaja Rosdakarya.
    Nana
    Sujdana. (2010). Penilaian Hasil Proses
    Belajar Mengajar
    . (cet.XV). Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
    .
    Nurhadi,
    (2003), Pembelajaran konstektual dan
    penerapannya dalam KBK
    , Malang, Universitas Negeri Malang.
    Prayitno.
    (2009). Dasar Teori dan Praktis
    Pendidikan
    . Bandung : Grasindo
    .
    Purwanto, (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT.
    Remaja Rosdakarya
    .
    Rusman,(2011),
    Model-Model Pembelajaran Mengembangkan
    Profesionalisme Guru
    , Jakarta : Rajaali Perss
    .
    Sugiyono,(2013),
    Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan
    Kuantitatif, Kualitatif, dan R dan D
    , Bandung : CV Alfabeta
    .
    Supriyono, Agus.
    (2009). Cooperative Learning Teori dan
    Aplikasi PAIKEM
    , Yogyakarta : Pustaka Belajar
    .
    S, Winarno (2009). Interaksi Belajar Mengajar. Bandung :
    Jemmars
    .
    Yana Wardana. (2010). Teori Belajar dan Mengajar. Bandung : PT
    Pribumi Mekar
    .


    Like it? Share with your friends!