FESTIVAL MANDE BEDIL KERAJA DAN PERANG KETUPAT DIKERATON PAKUNEGARA TAYAN


  • Jumat, 16 November 2018
  • 08:35 WIB
  • FESTIVAL MANDE BEDIL KERAJA DAN PERANG KETUPAT DIKERATON PAKUNEGARA TAYAN

    //DISKOMINFO-SGU//


    Dilaksanakan kegiatan dalam rangka pembukaan kegiatan festival mandi bede kerajaan ke lima dikeraton paku negara tayan kab.sanggau,pada hari kamis (15/11/2018) pukul (09:00)WIB.

    Keraton Tayan akan menggelar Festival Mandi Bedil Keraja dan Perang Ketupat pada tanggal 14 – 17 November di Kawasan Keraton Tayan, Kecamatan Tayan Hilir

    Mandi bedil keraja yaitu sebuah ritual adat yang sudah berlangsung lama atau sejak Kerajaan Tayan berdiri di zaman Raja Pertama Gusti Lekar yang beristrikan Encik Periuk.

    Menurut Gusti Yusri (Raja Tayan) zaman dahulu, bedil/senjata kerajaan dimandikan ketika negeri dilanda kekeringan, atau diserang wabah penyakit, serta bala bencana, yang biasanya ada isyarat mimpi yang dialamatkan kepada raja atau pemimpin sesepuh negeri. Kemudian air dari mandian bedil kerajaan itu, digunakan untuk menyembuhkan penyakit manakala ada wabah, atau digunakan untuk memupuk tanaman padi yang juga sebagai air tolak bala,

    Mandi bedil kerajaan dilaksanakan di dalam keraton dan di luar,yakni di Muara Sungai Tayan persis diujung Tanjung (salah satu situs sejarah Kerajaan Tayan).

    Sementara itu, perang ketupat, yakni rangkaian dari mandi bedil kerajaan. Dinamakan perang ketupat, yakni sebagai bentuk simbolik tolak bala yang kemungkinan melanda negeri (Keraton Tayan) dengan cara saling melemparkan ketupat tolak bala, antara warga di pinggir sungai dengan warga yang menggunakan motor air, yang diselenggarakan di Muara Sungai Tayan hingga menuju Istana Keraton Pakunegara Tayan di Desa Pedalaman yang berjarak sekitar satu kilometer dari keraton.

    Ketupat yang digunakan untuk perang ketupat, yakni hasil penyerahan dari masyarakat disekitar keraton secara sukarela. Ketupat tolak bala tersebut bentuknya berbeda dengan ketupat pada umumnya. Ketupat yang diserahkan itu dari hasil panen dan hanya 21 buah setiap kepala keluarga yang menyerahkannya.

    Dalam kesempatan itu, perang ketupat tersebut melibatkan seluruh unsur masyarakat, tanpa membedakan suku, agama, dan menjadi tradisi bersama, termasuk tamu yang akan hadir dalam festifal ini.

    Dalam Festival ini akan hadir 12 Raja-Raja dari berbagai Kabupaten di Kalimantan Barat dan tidak menutup kemungkinan akan hadir utusan Raja-Raja dari Negara Malaysia dan Brunei.

    Harid pada kesempatan itu Bupati Sanggau Paoulus Hadi,S.IP,M.Si, Anggota DPR-RI H.Sukiman, Danlanud Supadio Pontianak Marsakel Pertama TNI Minggit Tribowo,S.IP, Dandim Letkol Inf Herry Purwanto, Sanggau Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalbar Priyono, Raja se-Kalbar, Kaum Kerabat Keraton Paku Negara Tayan, Forkopimda, Direksi PT.Antam beserta general manager Unit tayan, Perwakilan Bank Kalbar, Ketua DPP MABM Kalbar, Dewan Adat Dayak yang di wakili, Rektor Universitas Panca Bakti, Direktur Utama Pontianakpost Group, Camat dan toko Masyarakat beserta anggota POM.

    Sambutan Raja Tayan Gusti Yusri Kegiatan ritual budaya keraton PAKUNEGARA berupa Mande’ badel keraja dan perang ketupat yang tadi telah kita saksikan bersama. Adapun perlombaan yang akan berlangsung Lomba perahu, Memanah, Kaki antu, pangka gasing, Mbenter, cangkelele,congkak, bunga pencasilat. Saya berterima kasih untuk seluruh kehadiran masyarakat dan para tamu undagan yang sudah hadir disini jaga terus keamanan kita.(UJARNYA)

    Sambutan Bupati Sanggau kegiatan festival keraton tayan ini dapat dilaksanakan setiap tahunnya sebagai wadah menjalin silaturahmi masyarakat secara umum dan khususnya etnis melayu sebagai wujud keberagaman dalam memajukan budaya nasional. Kegiatan kebudayaan merupakan urusan wajib yang dilaksanakan sesuai Undang – Undang nomor 5 tahun 2017 Tentang pemajuan Kebudayaan yang merupakan urusan wajib dalam rangka penguatan pendidikan karakter. Semoga menjadi harapan kita bersama kedepan generasi muda kita adalah generasi yang berkwalitas, kreatif berbudaya dan bermartabat dengan nilai lokal dan bangga dengan identitas dirinya sebagai bangsa yang berbudaya.




    Like it? Share with your friends!