Dampak Banjir Bandang, Desa Nekan Potensi Gagal Panen Capai 90 Persen


  • Rabu, 5 Agustus 2020
  • 13:57 WIB
  • Dampak Banjir Bandang, Desa Nekan Potensi Gagal Panen Capai 90 Persen

    Dampak Banjir Bandang, Desa Nekan Potensi Gagal Panen Capai 90 Persen

    //DISKOMINFO-SGU//

    SANGGAU – Dampak dari banjir bandang yang menerjang Dusun Nekan dan Gramajaya, Desa Nekan, Kecamatan Entikong beberapa pekan lalu tak hanya menyisakan duka dan rumah yang rusak. Sawah seluas lima hektar milik kelompok tani setempat juga ikut terendam. Demikian diungkapkan Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perikanan (Dishangpang Hortikan) Kabupaten Sanggau, Kubin ketika diwawancarai, Rabu (5/8/2020).

    Kubin menyebut, sawah yang terendam tersebut telah memiliki padi berumur dua bulan. Menurutnya, potensi gagal panen mencapai 90 persen.

    “Yang terendam itu di Dusun Nekan. Umur padinya baru dua bulan. Potensi gagal panennya sampai 90 persen,” ujarnya.

    Meski hanya terendam air dan bukan lumpur, namun tetap sulit berharap tanaman padi akan normal kembali. Potensi panen, kata Kubin, hanya tinggal 10 persen. Padahal dalam kondisi normal dan berdasarkan pengalaman sebelumnya, potensi panen untuk satu hektar sekitar 4-5 ton. Artinya potensi panen dalam kondisi normal bisa mencapai 20 ton.

    Untuk menanggulangi itu, kelompok tani di lokasi tersebut telah mengajukan permohonan bantuan bibit ke Dishangpang Hortikan Sanggau. Hanya saja Kubin mengaku penyerahan bibit baru akan dilakukan pada musim rendengan nanti.

    “Musim rendengan sekitar bulan 9-10. Panennya mungkin Januari-Februari. Dan Musim Oktober-Maret rentang itu harus ada panen dan harus ada tanam. Yang tanamnya September-Oktober mungkin panennya Februari-Maret. Lepas itu Maret atau April, ada lagi tanam untuk panen Mei-Juni. Makanya sebetulnya tidak ada berhenti,” pungkasnya.

    Kubin juga memastikan rendaman air di Dusun Nekan tersebut berpengaruh banyak terkait kesuburan lahan. Pasalnya hanya sebatas rendaman air, bukan lumpur atau pun material berat.

    “Biasanya setelah panen, kesuburan tanah mulai berkurang. Mereka akan mengolah lahan dan dipupuk lebih dulu, sesuai standar pemupukan untuk persiapan tanam,” tuturnya.




    Like it? Share with your friends!