Pedagang Pasar Senggol Kota Sanggau Juga Pindah Lapak ke Pinggir Jalan Utama – Kalimantan Today

Pedagang Pasar Senggol Kota Sanggau Juga Pindah Lapak ke Pinggir Jalan Utama – Kalimantan Today


Foto—Pedagang ikan dan ayam di Pasar Senggol Kota Sanggau yang awalnya di dalam, terpaksa pindah ke pinggir jalan utama Kota Sanggau, Kamis (05/11/2021)—Kiram Akbar

 

KALIMANTAN TODAY, SANGGAU. Tak hanya pedagang Pasar Sentral Kota Sanggau saja yang terpaksa pindah lapak akibat terdampak banjir. Sejumlah pedagang di Pasar Senggol Kota Sanggau juga demikian. Banjir yang menggenangi lapak mereka hingga selutut orang dewasa, membuat mereka terpaksa membangun lapak di pinggir jalan utama Kota Sanggau.

“Mulai Senin (01/11/2021) pindah ke sini (pinggir jalan utama, red). Sebelumnya di dalam (lapak semula) empat atau lima hari di sana (sudah terendam),” ungkap Mustafa, 56, penjual ayam potong Pasar Senggol, Kamis (04/11/2021).

Hingga saat ini, ia mengaku belum ada solusi dari pemerintah terkait kondisi mereka. “(Kalau ada solusi) kita enak bagi-bagi tempat. Tapi tidak ada sampai sekarang. Mau tak mau mandiri semua, cari tempat sendiri,” keluhnya. .

Pria yang telah berjualaan selama 31 tahun di Pasar Senggol itu mengaku kali ini pendapatannya jauh menurun. Dalam kondisi banjir, ia hanya mampu menjual tujuh ekor ayam perhari.

“Biasanya kalau normal 10-15 ekor per hari. Jualan dari pagi sampai jam 16.00,” akunya.

Belum lagi untuk membuat lapak dan tenda. Semua, kata Mustafa, merupakan inisiatif sendiri. “Beli kayu, beli terpal. Makanya kita kalau mau pindah itu sebenarnya mikir,” keluhnya lagi.

Ia berharap ada perhatian dari pemerintah dan mencari solusi atas kondisi mereka. Paling tidak menetapkan lokasi dan pembagian lapak bagi para pedagang yang terdampak banjir.

“Ditetapkan tempatnya, kecil sama kecil, besar sama besar. Jadi dapat semua. itu seperti sebelah sana (di trotoar depan lapangan sepakbola Rawa Bakti, red), kita kan khawatir, gimana mau nyeberang, karen di pinggir jalan,” ungapnya.

Selama puluhan tahun berjualan, Mustafa mengaku ini merupakan kali kedua, setelah tahun 2004 silam.

“Tapi ketika itu dari pihak kecamatan ikut turun, membagi-bagikan tempat. Kalau sekarang belum ada sama sekali. Dulu itu dibagi, supaya kita tidak ribut dengan kawan (sesama pedagang, red),” pungkasnya. (Ram)